Pestisida Skala Rumah Tangga

Berkembangnya penggunaan pestisida sintesis (menggunakan bahan kimia sintetis) yang dinilai praktis oleh para pencinta tanaman untuk mengobati tanamannya yang terserang hama, ternyata membawa dampak negatif bagi lingkungan sekitar bahkan bagi penggunanya sendiri. WHO mencatat bahwa di seluruh dunia setiap tahunnya terjadi keracunan pestisida antara 44.000-2.000.000 orang dan dari angka tersebut yang terbanyak terjadi di negara berkembang. Dampak negatif dari penggunaan pestisida diantaranya adalah meningkatnya daya tahan hama terhadap pestisida, membengkaknya biaya perawatan akibat tingginya harga pestisida dan penggunaan yang salah dapat mengakibatkan racun bagi lingkungan, manusia serta ternak.

Cukup tingginya bahaya dalam penggunaan pestisida sintetis, mendorong usaha untuk menekuni pemberdayaan pestisida alami yang mudah terurai dan tidak mahal. Penyemprotan terhadap hama yang dapat mengakibatkan rasa gatal, pahit rasanya atau bahkan bau yang kurang sedap ternyata dapat mengusir hama untuk tidak bersarang di tanaman yang disemprotkan oleh pestisida alami. Oleh karena itu jangan heran bila penggunaan pestisida alami umumnya tidak mematikan hama yang ada, hanya bersifat mengusir hama dan membuat tanaman yang kita rawat tidak nyaman ditempati.

Bahan yang digunakan pun tidak sulit untuk kita jumpai bahkan tersedia bibit secara gratis. Contohnya seperti tanaman bunga kenikir yang masih dapat di temui ditanah-tanah kosong pada daerah yang cukup tinggi. Jenis lain yang digunakan pun harus sesuai dengan karakter dari bahan yang akan digunakan serta karakter dari hama yang ada. Seperti peribahasa, tak kenal maka tak sayang, sehingga menjadi: tak kenal bahan dan jenis hama maka tak dapat mengusir dan mengendalikan hama. Bahan lainnya adalah kunyit, sereh, bawang putih, daun jatropa, daun diffen, jenis rempah-rempah dan lainnya.

Dosis yang digunakan pun tidak terlalu mengikat dan beresiko dibandingkan dengan penggunaan pestisida sintesis. Untuk mengukur tingkat keefektifan dosis yang digunakan, dapat dilakukan eksperimen dan sesuai dengan pengalaman pengguna. Jika satu saat dosis yang digunakan tidak mempunyai pengaruh, dapat ditingkatkan hingga terlihat hasilnya. Karena penggunaan pestisida alami relatif aman dalam dosis tinggi sekali pun, maka sebanyak apapun yang diberikan tanaman sangat jarang ditemukan tanaman mati. Yang ada hanya kesalahan teknis, seperti tanaman yang menyukai media kering, karena terlalu sering disiram dan lembab, malah akan memacu munculnya jamur. Kuncinya adalah aplikasi dengan dosis yang diamati dengan perlakuan sesuai dengan karakteristik dan kondisi ideal tumbuh untuk tanamannya.

Selain harus mengenal karakter dari bahan yang akan digunakan, karakter hamanya sendiri pun harus diperhatikan dengan baik. Dengan mencari informasi karakter hidup hama, mendengarkan dari pengalaman orang lain serta mengamati sendiri, kita dapat mencari kelemahan dari hama tersebut. Contohnya untuk kutu yang menempel kuat di batang atau daun dapat diatasi dengan menggunakan campuran sedikit minyak agar kutu tidak dapat menempel. Selain itu, untuk semut yang menyukai cairan manis pada tanaman, dapat disemprotkan air sari dari daun yang sifatnya pahit seperti daun pepaya, daun diffen, dan lainnya.

Berikut beberapa contoh hama dan pestisida alaminya:
1.     Kutu Putih pada daun atau batang. Dapat digunakan bawang putih yang ditumbuk dan diperas airnya serta dicampurkan dengan air sesuai dosis yang diperlukan. Jika kutu melekat erat pada tanaman, dapat digunakan campuran sedikit minyak kelapa. Semprotkan campuran tersebut pada tanaman yang terserang hama.
2.     Untuk Tikus. Buah jengkol dapat ditebarkan di sekitar tanaman atau di depan lubang sarang tikus. Atau dengan merendam irisan jengkol pada air selama 2 hari. Lalu semprotkan pada tanaman padi yang belum berisi akan menekan serangan walang sangit.
3.     Berbagai serangga. Air rebusan cabai rawit yang telah dingin dan dicampur dengan air lagi serta disemprotkan ke tanaman akan mengusir berbagai jenis serangga perusak tanaman.
4.     Aphids. Air rebusan dari campuran tembakau dan teh dapat mengendalikan aphid pada tanaman sayuran dan kacang-kacangan. Air hasil rebusan di campurkan kembali dengan air sehingga lebih encer.
5.     Berbagai serangga. Air rebusan daun kemangi atau daun pepaya yang kering ataupun yang masih segar, dapat disemprotkan ke tanaman untuk mengendalikan berbagai jenis serangga.
6.     Nematoda akar. Dengan menggunakan bunga kenikir (Bunga Tai Kotok) yang direndamkan oleh air panas mendidih. Biarkan semalam lalu saring. Hasil saringan tersebut disiramkan ke media tanaman. Penting diperhatikan media yang digunakan mudah dilalui oleh air.
7.     Mengendalikan serangga, nematoda dan jamur. Dengan membuat air hasil rendaman tumbukan biji nimba dengan air selama tiga hari. Lalu siram pada tanaman, umumnya efektif pada tanaman sayuran.

Banyak resep yang dapat ditemukan dari pengalaman. Selain itu, perhatikan teknis saat memberikan pestisida alami. Perhatikan curah hujan dan saat penyemprotannya. Usahakan menyemprot setelah hujan agar tidak luntur oleh air hujan.
Baca selengkapnya...

Perangkap Lalat Buah

Lalat Buah merupakan serangga perusak yang banyak menyerang buah-buahan dan sayuran seperti mangga, jambu biji, belimbing, melon, nangka, jambu air, tomat, Cabe dan lain-lain. Serangga ini terdapat hampir di seluruh kawasan Asia-Pasifik, dan terhitung menyerang lebih dari 26 jenis buah-buahan dan sayur-sayuran.

Penelitian menunjukkan terdapat lebih kurang 4.500 spesies lalat buah diseluruh dunia yang berasal dari famili Tephritidae yang menjadi perusak tanaman. Namun begitu, dari jumlah tersebut, terdapat 20 spesies dari gen Bactrocera adalah merupakan perusak utama pada buah-buahan dan sayuran di Asia.

Lalat buah bersimbiosis mutualisme dengan bakteria kerana apa bila lalat buah meletakkan telur pada buah, biasanya akan turut disertai dengan bakteria akan memungkinkan pembentukan kulat pada bagian yang terkena serangan yang akhirnya akan meyebabkan buah menjadi busuk dan daun sayuran rusak. Sebagian  buah dan daun sayuran  yang terkena serangan lalat buah ini akan menjadi, berulat dan busuk.

Seekor lalat betina mampu meletakkan telur pada buah sebanyak 1-10 butir dalam sehari ia mampu meletakkan telur hingga 40 butir. Telur kemudian menetas menjadi ulat dan akan merusakkan buah dan daun pada sayuran. Sepanjang hidupnya seekor lalat betina mampu bertelur sampai 800 butir.

Pengendalian Lalat Buah begitu sulit meski  dengan penggunaan racun serangga kerana ciri-ciri fisikalnya yang besar. Malahan penggunaan racun insektisida untuk melindungi buah dan sayuran seringkali tidak mendatangkan hasil yang diharapkan.

Oleh karena itu, satu cara memerangi serangan lalat buah ini adalah dengan mengurangi populasinya dan menghapuskan popolusi lalat buah di kawasan kebun atau tanaman. Cara yang terbaik dan efektif adalah dengan menghapus “lalat buah jantan”. Ini akan menyebabkan persenyawaan baru tidak akan terjadi diantara lalat jantan dan lalat betina yang menghasilkan telur, seterusnya larva dan anak lalat buah.

Cara menghapus populasi lalat buah jantan ini adalah dengan memasang perangkap yang dibuat dari botol bekas air mineral, bekas plastik dan sebagainya. Dengan meneteskan Cairan pemikat (lure) yang diteteskan pada gumpalan kapas yang diikat secara tergantung di dalam perangkap. Lalat buah jantan yang tertarik kepada aroma/bau cairan pemikat ini, akan masuk perangkap dan tidak bisa untuk mencari jalan keluar. Lalat buah jantan yang terperangkap di dalam perangkap ini kemudian akan mati dengan sendirinya atau boleh diletakkan sedikit air (yang tidak mengenai pada kapas) di dalam botol untuk mematikannya.

lalat buah

Diantara bahan-bahan pemikat Lalat buah yang biasa digunakan ialah Minyak Cemara Hantu (Melaleuca bracteata) dan Minyak Selasih (Ocimum sanctum) yang mengandungi bahan Metil Eugenol. Bahan ini mempunyai bau (aroma) yang sama seperti yang dikeluarkan oleh lalat buah betina untuk menarik perhatian lalat buah jantan untuk melakukan hubungan (Sex Pheromone).

Metil eugenol terdapat dalam berbagai jenis tumbuhan seperti  beberapa famili, seperti Anacardiaceae, Araceae, Caricaceae, Labiatae, Liliaceae, dan Leguminosae.

Panduan Berkenaan Perangkap Lalat Buah adalah sebagai berikut:
1.     Jarak pemasangan perangkap antara satu perangkap ke perangkap lainya adalah 10 meter atau bisa disesuaikan dengan intensitas serangan.
2.     Perangkap digantung pada ketinggian 2-3 meter dari permukaan tanah.
3.     Air dan kapas pemikat hendaklah giganti pada setiap minggu supaya bau metil eugenol tidak terpengaruh dengan bau air.


Sumber: Heru Agus Hendra, Praktisi Hidroponik
Baca selengkapnya...

Tumbuhan Penebar Maut

Berikut adalah beberapa jenis tumbuhan yang bisa dijadikan pestisida dan sekaligus sebagai penebar maut bagi hama penggangu tanaman.

Daun brotowali bisa dipergunakan untuk mengatasi lalat buah. Bila ditambahkan kecubung wulung dapat mengendalikan ulat grayak atau hama penggerek batang.

Mimba untuk membasmi ulat tanah Agrotis sp., belalang, aphids, dan ulat grayak. Bila digabungkan dengan daun sirih mampu mengatasi serangan antraknosa pada cabe merah.

Larutan atau parutan jahe atau cengkeh untuk mengusir berbagai serangga dan mengatasi Plutella xylostella pada kubis.

Umbi bawang putih dan bawang merah bisa dijadikan untuk mengendalikan serangan ngengat dan kupu-kupu, Alternaria porii, dan layu fusarium.

Daun mindi dapat mengatasi serangan ulat grayak Spodoptera sp. dan ulat daun Plutella xylostella.

Daun cocor bebek bisa untuk menanggulangi larva ulat daun Plutella xylostella.

Daun dan biji suren bisa membasmi walangsangit, hama daun Eurema sp.

Akar dan daun serai wangi ampuh terhadap aphids dan tungau.

Daun babadotan membasmi ulat.

Daun cengkih sebagai fungisida.

Umbi gadung memberantas aphids dan tikus.

Buah maja untuk mengusir walangsangit.

Buah mengkudu sebagai larvasida.

Kulit batang pasak bumi musuhnya lalat buah.

Daun tembakau ampuh terhadap aphids.

Teh basi untuk mengusir semut.
Baca selengkapnya...

Padi Ember Organik

Secara umum, dimana pun, yang namanya menanam padi tekniknya hampir sama. Yang mebedakan hanya lokasi dan tempat tumbuhnya saja. Termasuk yang Akang bahas sekarang ini, yaitu padi ember organik. Sebetulnya disebut padi ember itu karena menanamnya atau membudidayakannya bukan dilahan sawah seperti biasanya, tetapi di ember, dan disebut organik karena dalam pemeliharaannya tidak menggunakan komponen yang berbahan kimia sintetis.

padi ember
Umur 56 hari setelah tanam

Sudah banyak praktisi yang melakukan budidaya dengan cara ini, namun setiap pelaku memiliki teknik sendiri-sendir. Memang ada beberapa bagian yang mirip-mirip, dan itu menurut Akang, merupakan suatu hal yang wajar. Namun, kalau dilihat secara menyeluruh tidak ada yang sama persis. Kalo Akang membudidayakan padi di ember ini dengan cara sebagai berikut:

1. Tempat
Menggunakan ember plastik hitam berdiameter 30 cm dan volumenya, kalau diisi air kira-kira 10 liter.

2. Media
Terdiri dari tanah (top soil), kompos jerami yang sudah 80% menyerupai tanah dan bokashi kotoran hewan. Semua bahan dicampur dengan perbandingan sama. Kemudian campuran media diberi air, lalu diaduk-aduk sampai mendekati seperti lumpur (tetapi tidak samapai jadi lumpur). Media yang sudah melumpur itu lalu dimasukan ke dalam ember sampai ketinggian 2,5 cm di bawah permukaan/bibir ember.

3. Penanaman
Pada saat menanam, benih boleh disemai dulu atau ditanam langsung (tabela) dalam media yang sudah dimasukan ke dalam ember. Apabila disemai dulu, bibit baru dipindah tanamkan ke ember diusia 10 hss (hari setelah semai). Sebelum benih disemai/ditanam langsung, benih harus direndam terlebih dahulu. Selengkapnya mengenai cara merendam dan menyemai bisa lihat disini.

4. Pemeliharaan
Meliputi pemberian air, pencabutan rumput (kalo ada), pemupukan, dan penanggulangan hama dan penyakit.
-   Air baru diberikan apabila media kering (usahakan, sesekali, sampai kondisi medi retak basah). Pemberian air harus sampai permukaan ember. Pemberian air dihentikan saat tanaman berumur 95 hst (hari setelah tanam).
-   Saat tanaman berumur 14 hst (24 hss) sampai 49 hst (59 hss), pupuk tanaman dengan Nutrisi Fase Vegetatif dan saat tanaman berumur 56 hst (66 hss) sampai 91 hst (101 hss), dipupuk dengan Nutrisi Fase Generatif. Pengaplikasian pupuk dilakukan dengan cara disiram dan disemprot, berselang-seling (bergantian) setiap 7 hari sekali.
-   Untuk mencegah terjadinya serangan hama dan penyakit sebaiknya dilakukan penyemprotan secara berkala menggunakan Pestisida Hewani dan atau Pestisida Dari Air Cucian Beras.

5. Panen
Dilakukan bila bulir padi sudah menunjukkan matang secara fisiologis, yang dicirikan dengan berwarna kuning cerah keseluruhan, serta bila ditekan dengan kuku jari tangan terasa keras dan tidak meninggalkan bekas tekanan. Biasanya kondisi tersebut setelah usia tanaman mencapai 110-120 hst (tergantung varietasnya).

Photo perkembangan tanaman padi ember bisa lihat disini.
Baca selengkapnya...

9 Makanan Penyedot Lemak

Ketika seseorang berusaha mengurangi berat badannya dengan melakukan diet, pertanyaanya, benarkah harus menghindar dari semua makanan? Sebenarnya tidak demikian. Ada beberapa makanan yang justru bisa membantu “membakar” lemak! Mari kita temukan beberapa makanan alami yang dapat membantu mengurangi asupan lemak, sehingga badan bisa terlihat lebih baik.

1. Tahu Dingin
Ini dapat membantu mencerna lemak yang tersimpan di dalam usus dan perut, juga untuk mengeluarkan lemak.

2. Rebung
Makanan ini rendah lemak dan gula namun tinggi serat. Rebung baik untuk mencegah konstipasi. Akan tetapi orang yang menderita ulkus (luka) perut harus membatasi asupan rebung.

3. Sayuran yang diasinkan
Lemak dari sayuran terhancurkan selama proses pengasinan. Akan tetapi, orang yang tubuhnya cederung menyimpan kelebihan cairan dan gas harus menghindarinya untuk mencegah tersimpannya cairan tubuh.

4. Tauge
Mengandung fosfor, zat besi dan banyak cairan. Ini dapat mencegah terbentuknya lemak di bawah kulit.

5. Pepaya
Membantu mengurangi kelebihan cairan dan gas yang tersimpan di dalam tubuh dan beri-beri. Juga memperbaiki persendian.

6. Nanas
Mengandung enzim untuk menghancurkan makanan berprotein tinggi, seperti ikan dan daging. Ini cocok dikonsumsi setelah makan.

7. Manisan kulit jeruk
Tidak saja bisa membantu pencernaan dan melepaskan gas, juga dapat mengurangi tersimpannya lemak di dalam perut.

8. Cumi
Sangat rendah lemak sehingga berat badan tidak akan bertambah jika memakannya. Ini pilihan makanan yang tepat selagi diet.

9. Jali-jali
Efektif bagi orang dengan berat badan yang bertambah karena kelebihan menyimpan cairan dan gas.
Baca selengkapnya...

Manfaat Bioorganik Untuk Hewan Dan Ikan

Beberapa manfaat pemberian bioorganik pada hewan ternak antara lain sabagi berikut:
-   Menghilangkan bau kandang lingkungan sekitarnya.
-   Menyeimbangkan mikroorganisme di dalam sistem pencernaan ternak.
-   Meningkatkan nafsu makan ternak.
-   Menekan jumlah bakteri yang merugikan dalam perut ternak.

Berikut beberapa penggunaan bioorganik B-Dua untuk aplikasi pakan dan sanitasi kandang.
1.     Air minum ternak
Larutkan 1 tutup kedalam 10 liter air dan tambahkan 2 sendok makan gula pasir, aduk rata. Diamkan selama 15 menit, kemudian berikan 1 kali dalam sehari.
2.     Campuran pakan ternak
15 menit sebelum diberikan, campur 1 tutup dengan air secukupnya, kemudian percikan/semprotkan atau aduk dengan 5 kg pakan. Perlakuan tidak perlu pada setiap pemberian pakan, tetapi cukup 1 kali dalam sehari.
3.     Sanitasi kandang ternak
Larutkan 2 tutup kedalam 14 liter air dan tambahkan 1 sendok makan gula. Kemudian semprotkan larutan tersebut ke bagian kandang dan badan ternak setiap 3 hari sekali.

Berikut manfaat bioorganik untuk bidang perikanan dan tambak, yaitu:
-   Memfermentasikan sisa pakan dan kotoran ikan atau udang menjai senyawa yang bermanfaat.
-   Meningkatkan daya tahan tubuh ikan atau udang.
-   Menguraikan senyawa yang berbahaya menjadi senyawa yang aman bagi ikan atau udang.
-   Memperbaiki mutu air kolam.
-   Menekan jumlah mikroba yang merugikan.
-   Mempercepat pertumbuhan plankton sebagai sumber makan ikan.
-   Menekan serangan hama dan penyakit.

Cara penggunaan bioorganik B-Dua adalah:
-   Sebelum kolam diairi, berikan bokhasi sebanyak 2 ton/ha.
-   Siram atau semprotkan B-Dua ke atas bokashi sebanyak 5 botol per hektar dan biarkan selama 1 minggu. Setelah itu, kolam diberi air.
-   Pada masa pemeliharaan, berikan 3-5 botol B-Dua untuk tiap hektar. Interval pemberian dilakukan seminggu sekali.

bio organik
Baca selengkapnya...

Pembesaran Belut Tanpa Lumpur

Secara alamiah tempat hidup belut (Monopterus Albus) adalah lumpur yang berair. Untuk keperluan itu para peternak belut harus menyiapkan media yang dibuat dari berbagai jenis bahan yang nantinya bisa menghasilkan media sesuai atau paling tidak mendekati tempat hidup aslinya. Beberapa pembudidaya diantaranya memang berhasil, tetapi untuk yang lainnya, kebanyakan masih bergelut dengan “teknologi do’a” supaya bisa panen dengan hasil sesuai yang diharapkan.

Karena hidup di dalam lumpur, tidak banyak yang bisa dilakukan untuk memastikan jumlah serta perkembangan belut selama masa pemeliharaan. Dengan alasan itu maka muncul cara baru dalam usaha ternak belut, yaitu pembesaran belut tanpa media lumpur. Dalam hal ini pembudidaya cukup menggunakan air bersih (bening) sebagai media pembesaran belut.

Keuntungan pembesaran belut dengan metode ini adalah:
1.     Lebih mudah dalam mengontrol perkembangan dan pertumbuhan belut karena fisiknya kelihatan.
2.     Tidak usah repot lagi mencari gedebong pisang, jerami, lumpur sawah, pupuk kandang dan yang lain-lainnya untuk dijadikan sebagai media.
3.     Jumlah bibit yang disebar bisa lebih banyak, yaitu mencapai 30 kg/m3 bahkan bisa sampai 50 kg/m3. Tentunya perbedaan ini cukup signifikan bila dibandingkan dengan yang menggunakan media lumpur yang hanya bisa menampung bibit sebanyak 1 kg/m3. Ini berarti, tidak diperlukan lagi tempat atau lahan yang luas.
4.     Lebih efektif dan efisien dari segi waktu, tata laksana pekerjaan dan tempat.

Ada empat faktor penting yang sangat menentukan berhasil tidaknya membesarkan belut dengan media air. Yang pertama adalah air. Dalam pembesaran belut tanpa lumpur, air merupakan faktor utama yang sangat fital. Kondisi air harus selalu dikontrol secara rutin, karena akan berpengaruh terhadap perkembangan belut. Air harus selalu jernih, memiliki suhu antara 25-28 derajat celcius, pH antara 5-7, tidak mengandung zat kimia berbahaya dan selalu menggunakan air yang telah diendapkan, minimal selama 24 jam. Jangan menggunakan air PAM karena mengandung kaporit, air yang langsung diambil dari sumur bor (pantek) karena sangat minim kandungan oksigennya dan air limbah.

Pada setiap kolam pemeliharaan wajib memiliki sirkulasi meskipun debitnya sangat kecil. Sirkulasi tersebut berfungsi untuk menambah kandungan oksigen dalam air dan menjaga kebersihan air. Kolam akan keruh kalau tidak ada sirkulasinya, dengan demikian harus sering diganti, paling tidak selama 2 atau 3 hari sekali. Tentunya ini akan sangat merepotkan sekali, bukan?

Air harus diganti apabila memenuhi salah satu ketentuan berikut:
1.     Terlihat kotor/keruh atau warnanya sudah kuning kecoklatan.
2.     Di dasar kolam sudah terdapat endapan kotoran yang tebal.
3.     pH air melebihi ambang batas akibat lendir yang dihasilkan dari tubuh belut.

Untuk lebih pastinya, masalah pH air ini harus selalu diukur secara berkala jangan sampai pH air kurang atau melebihi dari ketentuan. Jika tidak memiliki alat untuk mengukur pH bisa dengan dikira-kira, biasanya air sedikit mengental karena kebanyakan lendir belut.

Faktor penting yang kedua adalah pakan. Pakan juga termasuk salah satu faktor yang sangat menentukan bagi perkembangan serta pertumbuhan belut. Berilah pakan secukupnya, jangan sampai kekurangan atau berlebihan dan berilah pakan yang paling disukai belut. Jika dalam pemberian pakan terlalu banyak akan menyebabkan air cepat kotor dan dapat berakibat buruk pada belut sehingga belut mudah sakit dan lama-kelamaan bisa mengalami kematian. Begitu juga bila pemberian pakan kurang, maka bisa menimbulkan sifat kanibalisme dan pertumbuhannya lambat.

Selama belut masih mau makan dengan pakan yang biasa diberikan jangan beralih ke pakan lain. Apabila makanannya akan diganti, jangan sekaligus (total) tetapi perlu waktu dan harus disubtitusi terlebih dahulu. Jika setelah diberi pakan baru belut tidak mau makan, kembalilah ke pakan yang sebelumnya (lama).

Pakan yang paling baik adalah pakan alami bukan buatan seperti pelet. Jenis-jenis pakan yang disukai belut diantaranya cacing sawah (root/lor), cacing merah, cacing lumbricus, ikan cere, ikan cithol, ikan guppy, anakan ikan mas, anakan ikan lele, berudu (kecebong), lambung katak, keong mas/sawah, dan ulat hongkong.

Berikutnya adalah faktor bibit. Untuk keberhasilan pembesaran, pilihlah bibit yang berkualitas baik. Umumnya bibit belut yang ada saat ini, sebagian besar, masih merupakan hasil tangkapan dari alam. Sedangkan cara yang dipake berbeda-beda dan pastinya akan berpengaruh terhadap kualitas bibit.

Bibit yang ditangkap dengan cara alami menggunakan perangkap, seperti bubu atau posong, merupakan bibit yang cukup baik karena tidak mengalami perlakuan yang dapat menurunkan kualitasnya. Sebaliknya, bibit yang diperoleh dengan cara tidak baik, seperti disetrum, bukan termasuk bibit berkualitas. Bibit yang diperoleh dengan cara disetrum pertumbuhannya tidak akan maksimal (kuntet).

bibit belut

Memang yang paling baik adalah yang berasal dari hasil budidaya. Selain ukurannya seragam bibit ini jarang terserang penyakit. Sayangnya, bibit belut hasil budidaya untuk saat ini masih sangat sedikit. Berikut adalah hal-hal yang harus diperhatikan terkait bibit belut yang berkualitas:
1.     Tidak ada bekas luka
2.     Lincah dan agresif
3.     Tidak lemas
4.     Ukuran seragam

Faktor penentu keberhasilan yang terakhir adalah kepadatan. Kepadatan penebaran bibit dalam kolam pembesaran untuk tiap-tiap jenis ikan berbeda-beda dan akan sangat mempengaruhi pada perkembangan, pertumbuhan dan tingkat kematiannya. Misalnya dalam pembesaran seperti ikan mas, gurame dan nila. Kalau penebarannya terlalu padat, waktu pembesaran bisa terhambat walau pemberian pakan sudah sesuai dengan aturan yang seharusnya, juga bisa mengakibatkan tingkat kematian yang cukup tinggi.

Namun metode pembesaran belut tanpa lumpur ini sangatlah berbeda dengan penebaran bibit jenis-jenis ikan yang lainnya. Penebaran bibit yang padat, justru sangat baik untuk perkembangan belut itu sendiri dan juga dapat menekan tingkat kematian, karena belut akan menggunakan tubuh belut yang lainnya sebagai pengganti lumpur untuk tempat bersembunyi sehingga sesama belut akan saling melindungi. Dalam hal ini, yang penting suplai makan mencukupi.
Baca selengkapnya...

Kumpulan Video