Berkembangnya penggunaan pestisida sintesis (menggunakan bahan kimia sintetis) yang dinilai praktis oleh para pencinta tanaman untuk mengobati tanamannya yang terserang hama, ternyata membawa dampak negatif bagi lingkungan sekitar bahkan bagi penggunanya sendiri. WHO mencatat bahwa di seluruh dunia setiap tahunnya terjadi keracunan pestisida antara 44.000-2.000.000 orang dan dari angka tersebut yang terbanyak terjadi di negara berkembang. Dampak negatif dari penggunaan pestisida diantaranya adalah meningkatnya daya tahan hama terhadap pestisida, membengkaknya biaya perawatan akibat tingginya harga pestisida dan penggunaan yang salah dapat mengakibatkan racun bagi lingkungan, manusia serta ternak.
Tampilkan postingan dengan label Pestisida. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pestisida. Tampilkan semua postingan
Tumbuhan Penebar Maut
Berikut adalah beberapa jenis tumbuhan yang bisa dijadikan pestisida dan sekaligus sebagai penebar maut bagi hama penggangu tanaman.
Daun brotowali bisa dipergunakan untuk mengatasi lalat buah. Bila ditambahkan kecubung wulung dapat mengendalikan ulat grayak atau hama penggerek batang.
Pestisida Hewani
Pestisida hewani tidak sepopuler pestisida nabati. Bagi para peternak sapi, dapat memanfaatkan urin sapinya untuk dibuat pestisida, khususnya untuk diaplikasikan dalam pengendalian hama dan penyakit pada tanaman padi.
Manfaat Sirsak

Hampir semua orang pernah tau yang namanya sirsak. Buahnya bisa dibuat berbagai penganan lezat, seperti dodol, keripik, atau dimakan langsung. Selain itu, meski rasanya agak masam, khasiatnya pun cukup bisa diandalkan untuk mengatasi beberapa penyakit. Sirsak yang punya nama Annona Muricata ini bisa tumbuh di sembarang tempat termasuk di pekarangan rumah. Jika ditanam di daerah yang mengandung banyak air, sirsak akan tumbuh lebih subur.
Daun sirsak berbentuk bulat telur dan agak tebal. Buahnya juga berbentuk bulat dengan permukaan kulit yang kasar dan seperti berduri. Buah yang sudah matang rasanya lebih terasa asam daripada manis.
Nama sirsak berasal dari bahasa Belanda, yaitu Zuurzak yang berarti kantung yang asam. Oleh sebab itu ada juga orang yang menyebut buah ini dengan nama nangka landa, nagka walanda atau nangka sabrang.
Berbagai referensi menyebutkan, buah sirsak mengandung berbagai zat dan senyawa yang dibuthkan oleh tubuh. Misalnya kalori, protein, lemak, hidrat arang, kalsium, fosfor, besi, vitamin A, B, dan C. Sedangkan pada batangnya mengandung senyawa tamin, Ca-oksalat, dan fitosterol serta di daun dan bijinya terdapat annonain dan resin. Karena kandungan senyawa dan zatnya itu, maka sirsak bisa dimanfaatkan untuk pengobatan dari beberapa jenis penyakit dan dibuat pestisida nabati.
Untuk penyakit ambeien misalnya, yang dimanfaatkan adalah buah sirsak yang sudah matang. Caranya, buah tersebut diperas dan diambil airnya sebanyak satu gelas. Air tersebut kemudian diminum dua kali sehari.
Bayi yang mengalami mencret-mencret juga bisa diobati dengan sirsak. Buah sirsak yang sudah matang diperas dan diambil airnya, air perasan tersebut diminumkan ke bayi 2–3 sendok makan.
Bagi mereka yang mengalami sakit pinggang juga bisa memanfaatkan tanaman ini. Caranya, ambil 20 lembar daun sirsak dan rebus dengan 5 gelas air hingga mendidih sampai tersisa kurang lebih tiga gelas. Selanjutnya air rebusan diminum satu kali sahari sebanyak tiga perempat gelas.
Selain penyaik-penyakit di atas, sirsak juga memiliki khasiat untuk mengatasi gangguan penyakit lainnya, seperti asam urat, bisul, dan ayang-ayangan (sering buang air kecil tapi sedikit dan terasa sakit).
Sedangkan pemanfaatan sebagai pestisida bisa dibuat untuk penanggulangan hama wereng dan ulat grayak. Caranya, 250 gr daun sirsak yang masih segar ditumbuk halus, kemudian aduk dengan ½ liter air. Setelah tercampur rata, saring cairan tersebut. Dalam pengaplikasiannya, campurkan hasil saringan tadi dengan 14 liter air lalu semprotkan.
Untuk mengendalikan hama thrips pada tanaman cabe caranya, 50-100 lembar daun sirsak ditumbuk halus, kemudian tambahkan 5 liter air dan ditergen sebanyak 15 gram. Setelah diendapkan semalam, larutan disaring. Bila ingin diaplikasikan, setiap 1 liter larutan dicampur dengan 10-15 liter air, baru disemprotkan.
Manfaat Bawang Merah

Bawang memang kerap dijauhi sebagian orang karena dianggap memicu bau tak sedap. Tapi “orang tua” kita dulu, justru menganggap bawang merah mampu mengobati banyak penyakit. Jika anak demam misalnya, orang di desa lebih mempercayakan terapi pengobatan dengan kompres gerusan bawang merah. Bisa jadi memang langkah itu tepat, sebab secara klinis bawang merah mengandung sejumlah senyawa yang mampu mengobati berbagai penyakit, entah itu penyakit ringan maupun berat.
Bawang merah mengandungi Fosfor, Niacin, Enzym Allinase, Sulfur, Vitamin B1, Vitamin C, Flavanoid, Asam Fenol, Pektin, Volati Oil, Sterols, Kalsium, Saponin, Karbohidrat, Serat. Flavonoid dipercayai mengurangkan risiko kanker, penyakit jantung dan kencing. Ini disebabkan flavonoid memang memiliki unsur antikanker, antibakteri, antiviral, dan antialergi.
Dari penyelidikan terkini, bawang merah juga cukup efektif memerangi sel kanker hati. Umbi yang nyaris tak pernah absen sebagai bumbu masakan ini mengandung phenolic lebih banyak dibandingkan bawang putih. Bawang merah dapat membantu proses detiksifikasi. Bawang mampu mengeluarkan antikoagulan yang membantu pencairan darah. Ia juga membantu fungsi otak sehingga mengurangkan risiko penyakit alzheimer's. Memakan bawang merah setiap hari dapat membantu tumbuhan jaringan tulang dan mengurangkan risiko osteoporosis hingga 20 persen.
Beragam kandungan zat yang terdapat dalam bawang merah menandakan, zat tersebut dapat menyembuhkan berbagai penyakit sesuai dengan fungsi yang dikandung zat-zat tersebut. Bahkan, bawang merah pun mengandung "antibiotik" yang lebih kuat dibanding penisilin dan aeromisin, asid karbrid, bahan yang bisa menambah vitalitas seksual, serta bahan jalokatein yang berfungsi membatasi kadar gula dalam darah dan mengembangkan insulin.
Penyakit lain yang dapat disembuhkan dengan bawang merah, di antaranya adalah penyakit sistem penghadaman (dyspepsia), masuk angin, sembelit, mencret-mencret dan cacingan. Bagi mereka yang pencernaannya terganggu, hancurkan dan campurlah dengan madu. Untuk mengatasi masuk angin, sediakan perasan bawang merah dan halba (sejenis tumbuhan yang bijinya dibuat obat atau digunakan sebagai rempah-rempah), rebus setengah gelas. Tambahkan madu dan minumlah sekali sehari.
Bagi mereka yang bermasalah dengan sembelit, siapkanlah bawang merah yang sudah dihancurkan sebanyak setengah gelas, satu gelas susu, kemudian larutkan. Minumlah campuran tersebut setiap pagi sampai sembelitnya hilang. Untuk mengatasi mencret-mencret, siapkanlah setengah gelas bawang merah yang sudah dikupas, biji kopi yang sudah ditumbuk dan madu setengah gelas, lalu aduk.
Bawang merah pun dapat mengatasi sistem peredaran darah, yaitu radang limpa, tekanan darah dan angina pektoris. Bawang merah pun dapat mengatur sistem pembuangan, seperti penyakit kencing manis, radang prostat, lemah syahwat, encok, dan ginjal. Selain itu, bawang merah juga dapat mengatur sistem pernapasan, mengobati mata bengkak dan selaput putih di mata.
Bagi mereka yang bermasalah dengan bisul atau luka bernanah, daging tumbuh, eksim, rambut rontok dan ibu jari kaki dan tangan yang bengkak, bisa mencoba bawang merah sebagai penawarnya.
Bawang merah pun dapat mengobati penyakit lain, seperti rematik tulang, pusing, penglihatan kabur, sakit telinga dan memar-memar. Tak hanya itu, bawang merah pun bermanfaat terhadap perubahan air, menolak angin yang panas, membangkitkan selera, menguatkan perut, membangkitkan gairah seks, membaguskan warna, menghentikan plegma dan membersihkan perut. Bijinya menghilangkan vitiligo dan meredakan apolecia (kebotakan).
Adapun manfaat bawang merah yang lainnya adalah dapat menyembuhkan penyakit kuning, batuk dan sesak napas, melancarkan air seni, dan menghaluskan usus. Ia juga bermanfaat terhadap gigitan anjing yang tak terpengaruh hydrophobia bila airnya diperaskan dan dicampuri garam dan rue (sejenis biji yang pahit rasanya). Bila diletakkan pada titik ambeien, ia akan membuka mulut-mulutnya.
Apabila kita ingin mencoba khasiat bawang merah ini, banyak cara yang dapat kita lakukan. Bawang merah ini bisa dipergunakan dengan cara direbus, dicincang, dipanggang, digoreng, dijadikan serbuk, diobati dengan kulitnya saja, dengan air bawang, uap dan perahan bawang atau akan lebih baik lagi bila dimasak, karena akan menghasilkan kadar nutrisi yang cukup tinggi.
Walaupun bawang merah dapat dijadikan obat alternatif dalam mencegah berbagai penyakit, bawang merah juga mempunyai efek samping yang harus diwaspadai. Bawang merah mengandung kelembaban yang berlebihan. Karena itu bawang merah dapat menyebabkan migraine, memusingkan kepala, mengakibatkan gas dan menggelapkan penglihatan.
Kebanyakan memakan bawang merah akan mengakibatkan kelupaan, merusak akal, mengubah bau mulut dan napas. Tetapi semua efek samping tersebut akan lenyap bila bawang merah dimasak terlebih dahulu.
Zat asid karbrid yang terkandung dalam bawang merah dapat memedihkan mata dan hidung. Biasanya mata dan hidung akan berair karena baunya yang menyengat. Bila hal ini terjadi, basuhlah tangan dengan air hangat yang telah dicampur garam (asid ammonia) atau juga bisa dengan mengunyah biji yang tidak berklorofil setiap delapan jam.
Untuk bidang pertanian pun bawang merah sangat banyak sekali kegunaannya. Untuk perangsang akar misalnya, ambil bawang merah kira-kira sebanyak 1 ons, kemudian ditumbuk (tidak perlu halus) dan rendam dengan ½ liter air. Setelah didiamkan selama 1 jam saring dan ambil airnya. Campurkan air hasil saringan dengan 5 liter air yang akan digunakan untuk merendam benih atau bakal stek.
Ekstrak dari umbi bawang merah juga bisa digunakan untuk Fungisida, Insektisida dan Nematisida. OPT sasaranya antara lain Alternatera, Aspergilus, Claviceps, Fusarium, Locusta, Drosopilla, Dedes, Musca, dan Insekta Fungsi.
(dari berbagai sumber)
Penyakit Padi dan Penanggulangannya
Penyakit merupakan suatu kondisi tidak normal yang menyebabkan fungsi tanaman terganggu. Adanya penyakit dapat diketahui dari gejala yang dialami tanaman. Beberapa penyakit yang sering menyerang tanaman padi, diantaranya bercak coklat, blast, hawar daun bakter, dan tungro.
1. Bercak Cokelat
Penyebabnya adalah cendawan helminthosporium oryzae. Cendawan ini sering menyerang tanah yang kurang subur atau tanah beririgasi kurang baik. Gejala serangan antara lain timbulnya bercak-bercak cokelat seperti biji wijen terutama pada daun, tetapi dapat pula terjadi pada tangkai malai, bulir, dan batang. Bercak muda berbentuk bulat kecil, berwarna coklat gelap. Bercak yang sudah tua berukuran lebih besar (0,4-1 cm X 0,1-0,2 cm), berwarna coklat dengan pusat kelabu. Kebanyakan bercak mempunyai warna kuning di sekelilingnya. Serangan ini bisa mengakibatkan hilangnya hasil panen sampai 50% dan biji berkualitas rendah.
Pengendalian penyakit ini dengan cara memprbaiki kesuburan tanah, yaitu dengan memberikan pupuk kandang atau kompos. Sebab tanah yang subur tidak akan mudah diserang cendawan tersebut. Tanam varietas yang tahan. Gunakan benih yang sehat atau beri perlakuan fungisida atau air panas pada benih. Pupuk yang seimbang terutama K yang cukup. Sanitasi lapang. Pengolahan tanah yang cukup, pengairan dan drainase yang baik sehingga akar tumbuh dengan baik. Penyemprotan fungisida dilakukan pada masa anakan maksimum.
2. Blast
Blast menginfeksi tanaman padi pada semua fase pertumbuhan yang disebabkan oleh cendawan pyricularia oryzae. Faktor pemicunya adalah terlalu banyak menggunakan pupuk yang mengandung unsur N serta curah hujan dan kelembaban tinggi. Gejalanya adalah adanya bercak seprti mata pada daun padi atau berbentuk belah ketupat, lebar ditengah dan kedua ujung meruncing. Selain pada daun, infeksi juga menyerang ruas batang dan leher malai.
Pengendalian serangan penyakit ini dilakukan dengan cara menggunakan varietas yang tahan secara bergantian, menghindari penggunaan pupuk yang mengandung unsur N terlalu banyak, waktu tanam harus tepat agar saat pembungaan tidak banyak embun atau hujan, atau melakukan penyemprotan dengan fungisida secara berkala.
3. Hawar Daun Bakteri
Hawar daun bakteri (HDB) adalah salah satu penyakit yang dapat menyebabkan pertanaman padi mengalami puso. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri xanthomonas oryzae pv. oryzae yang dapat menginfeksi tanaman mulai dari pembibitan sampai panen. Ada dua macam gejala penyakit HDB. Gejala yang muncul pada saat tanaman berumur kurang dari 30 hari setelah tanam, yaitu pada persemaian atau tanaman yang baru dipindah ke lapang, disebut kresek. Gejala yang timbul pada fase anakan sampai pemasakan disebut hawar (blight). Secara spesifik tanda-tanda tanaman terserang adalah timbulnya bercak berwarna kuning sampai putih, berawal dari terbentuknya garis lebam berair pada bagian tepi daun. Bercak bisa mulai dari salah satu atau kedua tepi daun yang rusak dan berkembang hingga menutupi seluruh helaian daun. Apabila infeksi melalui akar atau pangkal batang, tanaman terlihat kering seperti terbakar.
Pengendalian penyakit ini seyogyanya dilakukan dengan penggunaan varietas yang memiliki ketahanan lebih dari satu gen ketahanan (polygenic resisstant), menanam varietas yang berbeda dalam satu hamparan, pastikan jerami dari tanaman sakit sudah terdekomposisi sempurna sebelum pindah tanam, hindari pemupukan N yang berlebihan, dan jarak tanam jangan terlalu rapat.
4. Tungro
Tungro adalah penyakit padi yang disebabkan virus tungro yang dibawa oleh wereng. Serangan penyakit ini mengakibatkan tanaman menjadi kerdil dan berkurangnya jumlah anakan. Pelepah dan helaian daun memendek dan daun yang terserang berwarna kuning sampai oranye. Daun muda sering berlurik atau strip berwarna hijau pucat sampai putih dengan panjang berbeda sejajar dengan tulang daun. Gejala mulai dari ujung daun yang lebih tua. Daun menguning berkurang bila daun yang lebih tua terinfeksi.
Bila serangan terjadi pada saat tanaman masih muda, sekitar umur 10-20 hari, akan menyebabkan kehilangan hasil sedikitnya 65%. Sedangkan untuk serangan saat tanaman berada pada fase akhir, kehilangan hasil tidak terlalu besar, yaitu sekitar 10-20%.
Pengendaliannya dengan cara memberantas berbagai jenis rumput liar yang merupakan sumber infeksi bagi penyakit ini, rotasi tanaman dengan palawija, menanam varietas yang tahan tungro, pembajakan di bawah sisa tunggul yang terinfeksi, cabut dan bakar tanaman yang sakit, dan tanam dengan menggunakan sistem tabela atau SRI.
Pestisida organik untuk menanggulangi penyakit padi
Ramuan yang pertama menggunakan tembakau, cabe rawit, dan bawang merah masing-masing 1 kg, serta kapur dan belerang 1 ons. Semua bahan digiling atau ditumbuk menjadi satu hingga halus, kemudian tambahkan air sebanyak 1/10 (sepersepuluh) dari jumlah bahan dan aduk-aduk sampai tercampur merata. Setelah didiamkan selama 12 jam, peras dan saring. Cairan siap untuk digunakan.
Dalam pengaplikasiannya pestisida tersebut disemprotkan ke tanaman yang terserang dengan dosis 4 cc/liter air. Untuk pencegahan lakukan setiap 5-7 hari sekali, sedangkan untuk penanggulangan tiga hari sekali.
Yang kedua menggunakan formula tunggal, yaitu dengan urin sapi. Sebelum digunakan urin harus diendapkan terlebih dahulu dalam wadah terbuka selama dua minggu agar terkena sinar matahari. Setelah itu, urin diencerkan dengan enam bagian air. Baru, campuran larutan disemprotkan.
Terakhir, ramuan dibuat dari daun mimba, tembakau, dan kunyit masing-masing 1 gengam, urin sapi 2 liter, dan air 12 liter. Daun mimba, tembakau dan kunyit dihaluskan, lalu direndam dengan air. Setelah 14 hari disaring. Air hasil saringan dicampur dengan urin sapi yang telah diendapkan selama 14 hari juga. Semprotkan campuran tersebut ke tanaman yang terserang, tanpa harus diencerkan lagi.
Pengendalian Hama Tikus

Diantara berbagai jenis hama, tikus (rattus argentiventer) merupakan hama yang paling menjengkelkan karena sulit diberantas. Tikus merupakan binatang bersifat jera hama, yaitu tidak akan memangsa umpan beracun yang sama bila ia pernah memakannya. Perkembangbiakannya pun sangat cepat. Dalam setahun sepasang tikus mampu beranak hingga 1.270 ekor.
Tikus menyerang tanaman padi mulai dari yang masih di persemaian, stadia vegetatif sampai setelah membentuk biji. Artinya, tikus sangat menyukai daun, batang, maupun biji padi. Dalam pengendaliannya, sebaiknya dilakukan dengan cara-cara terpadu.
Teknik Budidaya
Pengendalian dengan cara ini adalah melakukan penanaman padi secara serentak agar serangan hama tidak mengarah hanya pada beberapa petak sawah saja. Idealnya, penanaman serentak dilakukan pada sawah seluas 20 hektar. Bila penanaman serentak tidak mungkin dilakukan karena petani di sekitar areal persawahan kita tidak mau melakukannya maka dengan teknik ini setidaknya sudah dapat mengurangi intensitas serangan hama tikus.
Cara Biologis
Pengendalian secara biologis antara lain membiarkan berbagai hewan predator tikus seperti ular sawah dan burung hantu hidup di sekitar aral persawahan.
Cara Fisik
Pengendalian tikus secara fisik dilakukan dengan cara pemasangan perangkap. Perangkap tikus berupa anyaman kawat besi — banyak dijual di pasaran — yang di dalamnya diberi umpan.
Untuk menghemat, perangkap bisa dibuat sendiri dari batang bambu. Caranya, batang bambu berdiameter 9 cm dipotong sepanjang 30 cm. Salah satu ujungnya harus tertutup ruas dan ujung lainnya terbuka (mirip lubang). Setelah dinding bambu diolesi lem tikus, masukan umpan ke dalamnya. Tikus akan tertarik untuk masuk lubang dan tubuhnya melekat pada lem.
Selain dengan lem, bagian dalam batang bambu juga bisa diolesi bubur kanji yang sudah dicampur dengan gerusan cabe rawit. Namun, batang bambu yang digunakan untuk cara ini kedua ujungnya harus terbuka. Letakan perangkap ini di depan lubangnya atau pada tempat-tempat yang sering dilalui tikus. Tikus yang melewati terowongan bambu tersebut akan terkena kanji pedas sehingga matanya menjadi buta dan akhirnya mati.
Bisa juga tikus diberi umpan dengan menggunakan umbi gadung. Bila tujuannya untuk menekan perkembangbiakan tikus, umbi yang digunakan adalah umbi gadung KB (dioscorea composita). Sementara bila tujuannya untuk mengurangi populasinya, umbi yang digunakan harus umbi gadung racun (dioscorea hispida). Pemberian umpan ini yang terbaik saat tanaman berada pada fase vegetatif. Bila umpan diberikan pada fase generatif, umpan tidak akan dimakan karena tikus lebih tertarik pada bulir padi.
disamping menggunakan perangkap dan umpan, cara lain adalah dengan menggunakan buah jengkol atau mengkudu yang sudah hampir busuk. Kedua buah tersebut menyebarkan aroma bau tidak sedap yang tidak disukai tikus. Cara penggunaannya adalah dengan mengiris-irisnya, lalu disebarkan di areal sawah yang diserang tikus.
Cara Mekanis
Pengendalian secara mekanis adalah melakukan upaya goropyokan, yaitu memburu tikus dengan menghancurkan atau membongkar sarang-sarang tikus yang ada di sekitar areal persawahan. Biasanya dari sarang tersebut tikus akan keluar. Selain pembongkaran, cara lain untuk mengeluarkan tikus dari sarangnya dengan pengomposan atau pengasapan belerang.
Tikus yang keluar dari sarangnya harus langsung ditangkap dengan cara diburu. Untuk memudahkan dalam perburuan bisa menggunakan bantuan anjing. Supaya lebih efektif, sebaiknya dilalukan secara bersama-sama dengan petani lain. Akan lebih baik lagi apabila kegiatan ini dilakukan oleh petani yang berbeda di areal yang berbeda pula. Namun, jika hal ini tidak bisa dilakuakan maka perlakuan di areal yang sama pun setidaknya dapat mengurangi populasi tikus.
Menanggulangi Penyakit Patek

Penyakit patek (antraknosa) disebabkan oleh serangan cendawan atau jamur Colletotrichum Capsici atau Gloesporium Piperatum. Di pertanaman, serangan pada buah ditandai dengan munculnya bercak kuning yang berubah menjadi cokelat kehitaman. Selanjutnya, buah menjadi lunak dan membusuk, mengering dan saking beratnya serangan menyebabkan buah keriput seperti mummi. Penyakit ini juga menyebabkan buah yang masih hijau dan menyebabkan mati ujung. Keadaan cuaca panas dan lembab mempercepat perkembangan penyakit. Pada kondisi lembab, cendawan membentuk badan buah dalam lingkaran-lingkaran berwarna merah jambu, apabila dilihat dibawah mikroskop akan nampak badan buah yang disebut aservulus, adalah struktur yang terdiri dari kumpulan konidia pada masing-masing konidiosfor.
Cara‐cara pengendaliannya adalah, selain dengan cara budidaya yang baik dan sanitasi lahan yang baik, dapat pula dilakukan pengendalian secara kimiawi. Namun demikian, apabila pestisida kimia banyak digunakan, maka akan menimbulkan dampak terhadap lingkungan dan kesehatan, termasuk paparan residu pestisida. Oleh karena itu, cara pengendalian yang bijaksana perlu dilakukan antara lain dengan:
- Melakukan prendaman biji dalam air panas (sekitar 55 derajat Celcius) selama 30 menit.
- Memusnahkan bagian tanaman yang terinfeksi, namun perlu diperhatikan saat melakukan pemusnahan, tangan yang telah menyentuh (sebaiknya diusahakan tidak menyentuh) luka pada tanaman, tidak menyentuh tanaman/buah yang sehat, dan sebaiknya dilakukan menjelang pulang sehingga kita tidak terlalu banyak bersinggungan dengan tanaman/buah yang masih sehat.
- Penggiliran (rotasi) tanaman dengan tanaman lain yang bukan famili solanaceae (terong dan tomat) atau tanaman inang lainnya misal pepaya.
- Penggunaan mulsa plastik hitam perak (MPHP), karena dengan menggunakan mulsa plastik hitam perak sinar matahari dapat dipantulkan pada bagian bawah permukaan daun/tanaman sehingga kelembaban tidak begitu tinggi.
- Menggunakan jarak tanam yang lebar yaitu sekitar 65-70 cm (lebih baik yang 70 cm) dan ditanam secara zig-zag ini bertujuan untuk mengurangi kelembaban dan sirkulasi udara cukup lancar karena jarak antar tanaman semakin lebar, keuntungan lain buah akan tumbuh lebih besar.
- Jangan gunakan pupuk nitrogen (N) terlalu tinggi, misal pupuk Urea, Za, ataupun pupuk daun dengan kandungan N yang tinggi.
- Penyiangan/sanitasi gulma atau rumput-rumputan agar kelembaban berkurang dan tanaman semakin sehat.
- Jangan menanam cabai dekat dengan tanaman cabai yang sudah terkena lebih dahulu oleh antraknosa/patek, ataupun tanaman inang lain yang telah terinfeksi.
- Pengelolaan drainase yang baik di musim penghujan.
Yang lebih baik adalah melakukan pencegahan dengan cara menyemprotkan pestisida nabati yang terbuat dari Kunyit, Laos, Kencur dan Jahe masing-masing 1 kg. Ditambah 1 butir gambir, 1 ons gula pasir, 1 liter EM TANI dan 3 liter air. Cara pembuatanya, tumbuk Kunyit, Laos, Kencur, Jahe dan Gambir kemudian masukan air, gula dan EM TANI. Campuran tersebut diamkan selama 7 hari. Pengaplikasian disemprotkan dengan dosis 2 cc larutan pestisida per 1 liter air.
Buah Rerak Pengendali Keong Mas

Keong mas (Pomacea canaliculata) yang tahun 1981 diperkenalkan sebagai hewan hias di Indonesia kini telah menjadi salah satu hama utama bagi tanaman padi. Diketahui mulai menyerang padi sawah negeri ini tahun 1990, luas serangan terus meningkat mencapai lebih dari 16 ribu hektar tahun 2004. Pada serangan kecil-kecilan, pengendaliannya bisa cukup dengan cara pengendalian hama terpadu (PHT). Sedangkan untuk serangan besar, salah satu teknologi yang bisa diterapkan ialah aplikasi pestisida.
Hendarsih Suharto dan rekan dari Balai Besar Penelitian Tanaman Padi di Sukamandi mengatakan bahwa sampai saat ini cara pengendalian yang paling banyak dilakukan di Indonesia ialah secara mekanis dengan mengambil keong mas untuk dimusnahkan. Tetapi cara inipun dilakukan kurang intensif sehingga populasi di lapangan terus meningkat. Bila serangannya besar yakni populasi sangat tinggi, aplikasi pestisida menghadapi kendala belum adanya pestisida anorganik terdaftar untuk pengendalian keong mas di Indonesia.
Untuk pemanfaatan potensi pestisida nabati di Indonesia, khususnya untuk mengidentifikasi yang paling efektif dan aman terhadap lingkungan, maka Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Sukamandi telah melakukan pengujian pendahuluan pada skala laboratorium. Hendarsin Suharto dkk yang mengungkapkan hasil penelitian itu belum lama ini menyimpulkan bahwa buah rerak (Sapindicus rarak) merupakan pestisida yang cukup efektif untuk mengendalikan keong mas, serta paling aman terhadap siput lokal dan ikan mas.
Keong mas menyerang tanaman padi muda yang tergenang air dengan cara memarut pangkal batang yang berada di bawah air dengan lidahnya. Patahan tanaman yang rebah lalu dimakan. Petani harus menyulam tanaman yang sudah rusak.
Uji lapang yang dilakukan di BPPTP Sukamandi menunjukkan bahwa saponin (produksi Taiwan) dan buah rerak konsisten dapat mengurangi tingkat serangan keong mas dan efektivitasnya tidak berbeda dengan mokuskisida sintetis niklosamida. Dibanding dengan pestisida nabati lainnnya seperti biji teh, nimba, gadung maka rerak dan saponin lebih aman terhadap siput lokal (yang biasa ada di bawah dan bisa dikonsumsi) serta ikan mas (pada usaha mina padi).
Pada percobaan tersebut konsentrasi saponin yang digunakan adalah 0,1 ml/l dan rerak (buah yang sudah diremukkan) juga 0,1 ml/l.
Kesimpulan lain yang diperoleh ialah bahwa toksisitas pestisida nabati tergantung pada ukuran keong mas. Pada aplikasi rerak, keong kecil lebih cepat mati dibandingkan ukuran yang lebih besar, sedangkan pada aplikasi saponin ukuranya tidak berpengaruh.
Terbukti pula bahwa aplikasi pestisida nabati pada waktu sebelum tanam lebih efektif dibanding aplikasi dua hari setelah tanam.
Mengenai aspek ketersediaan bahan dan biaya untuk pemanfaatan buah rerak, Hendarsin mengakui tanaman ini semakin langka. Beberapa tahun yang lalu harga buah rerak di pasar masih sekitar Rp. 2.000,-/kg kini sudah Rp. 15.000,-/kg. oleh karena itu ia menganjurkan sosialisasi aplikasi rerak untuk pengendalian populasi tinggi keong mas disertai dengan sosialisasi pelestarian dan penanaman lebih banyak tanaman rerak. Daging buah rerak (yang berbuih bila diremukkan) mengandung senyawa saponin sekitar 12%, disamping flavonida, alkoloida dan polifenol.
Mengenai pestisida nabati saponin, diungkapkan bahwa yang ex-impor dibuat dari limbah industri minyak biji teh. Di China dan Jepang, teh ditanam dari Camellia sinensis var. Sinensis untuk daun dan buahnya, sedangkan di Indonesia yang ditanam Camellia sinensis var. Assamica yang dimanfaatkan hanya daunnya, sehingga industri minyak biji teh tidak berkembang di Indonesia.
Mengenai aplikasi lapangan, Hendarsin menekankan yang penting adalah konsentrasi larutan rerak atau saponin. Untuk keamanan ikan mas, konsentrasi saponin perlu disesuaikan. Secara umum, kebutuhan per hektar aplikasi rerak dan saponin (konsentrasi 0,1 ml/l) adalah 50 kg.
Pestisida nabati lain juga bisa diaplikasikan untuk pengendalian keong mas populasi tinggi asalkan disesuaikan konsentrasinya untuk keamanan sesuai kondisi lingkungan setempat.
Sumber : Majalah Sinar Tani Edisi 16-22 Mei 2007
Kendalikan Keong Mas dengan Picung

Penggunaan tanaman Picung (Pangium edule Reinw) sebagai bahan pestisida organik perlu mengetahui dan memahami terlebih dahulu keberadaan kandungan racun sianida, mengingat racun sianida salah satu jenis racun yang paling toksik, bereaksi cepat dalam tubuh hewan maupun manusia. Penyimpanan ekstrak air biji picung segar selama enam hari dapat menurunkan kandungan sianida sampai 98%.
Hasil penelitian Yuningsih, peneliti dari Balai Besar Penelitian Veteriner melaporkan bahwa sianida terdapat dalam semua bagian dari tanaman picung. Sianida merupakan racun yang paling cepat reaksinya dalam tubuh, sehingga pemakian picung haruslah berhati-hati. Kandungan tertinggi terdapat dalam biji, diikuti oleh buah, daun, batang dan akar. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi tanah, musim dan struktur bijinya. Biji dengan struktur daging dan kulit yang keras mengandung sianida cukup tinggi yaitu rata-rata 2.000 ppm. Sebaliknya biji dengan struktur daging dan kulit lunak mempunyai kandungan rata-rata 1.000 ppm. Dalam pengupasan buah picung tua (kulit buah berwarna hijau kecoklatan dan keras), disarankan untuk memakai masker (penutup hidung) untuk menghindari bau yang menyengat dan dapat menyebabkan sakit kepala (pusing) sebagai akibat dari sianida.
Racun sianida yang terkandung dalam buah picung mampu membuat kematian 100% terhadap keong mas yang memiliki berat badan rata-rata 5-12 g, dengan cara perendaman dalam larutan ekstrak air biji picung yang mengandung 25-30 ppm. Racun sianida dari buah picung bila dimanfaatkan secara cermat dapat digunakan sebagai pengawet ikan, menghambat pertumbuhan bakteri pada ikan, dan lain-lain.
Sumber : Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Pestisida Nabati dari Mimba

Berdasarkan kandungan bahan aktifnya, biji dan daun mimba mengandung azadirachtin sebagai senyawa aktif utama, meliantriol, salanin, dan nimbin. Senyawa aktif tanaman mimba tidak membunuh hama secara cepat, tapi berpengaruh terhadap daya makan, pertumbuhan, daya reproduksi, proses ganti kulit, menghambat perkawinan dan komunikasi seksual, penurunan daya tetas telur, dan menghambat pembentukan kitin. Selain itu juga berperan sebagai pemandul.
Pengendalian hama dengan menggunakan mimba sebagai insektisida nabati mempunyai beberapa keunggulan antara lain:
1. Di alam senyawa aktif mudah terurai, sehingga kadar residu relatif kecil, peluang untuk membunuh serangga bukan sasaran rendah dan dapat digunakan beberapa saat menjelang panen.
2. Cara kerja spesifik, sehingga aman terhadap vertebrata (manusia dan ternak).
3. Tidak mudah menimbulkan resistensi, karena jumlah senyawa aktif lebih dari satu.
Berdasarkan hasil penelitian telah diperoleh bahwa ekstrak air biji mimba 50 g/l yang diaplikasikan pada umur 8 hari efektif menekan serangan hama lalat kacang, Ophiomyia phaseoli pada tanaman kedelai. Cara ini sama dengan jika menggunakan Karbofuran (Curater 3 G-6 kg/ha), Fipronil (Regent 50 EC-2 ml/l), dan Klorfirifos (Petroban200 EC-2 ml/l) dengan memberikan nilai tambah sebesar Rp. 80.400 per hektar, bila dibanding dengan tanpa pengendalian. Biji mimba yang diekstrak dengan pelarut air (50 g/l) ditambah 0,5 ml perata/ha juga efektif menekan serangan tungau merah pada ubikayu dengan mortalitas 70%. Pada tanaman kacang hijau ekstrak air biji mimba 50 g/l dapat menekan kehilangan hasil 13-45% terhadap hama penggerek polong Maruca testulalis, dan sebesar 21,5% terhadap hama Thrips bila dibanding tanpa pengendalian.
Hasil pengamatan di KP. Kendalpayak pada MT 2007 menunjukkan bahwa populasi ulat grayak, Spodoptera litura dan kutu kebul, Bemisia tabaci pada kedelai varietas Burangrang, Kaba, Ijen, dan Anjasmoro yang disemprot insektisida kimia cukup tinggi, rata-rata 6 ekor ulat/6 ayunan dan 1300-1500 ekor kutu kebul/6 ayunan dibanding 1 ekor ulat/6 ayunan dan 100-700 ekor kutu kebul/6 ayunan pada varietas yang sama yang disemprot dengan serbuk biji mimba 50 g/l air. Pada perlakuan mimba populasi predator laba-laba juga masih dijumpai.
Pembuatan Ekstrak Air Biji Mimba
1. Kering anginkan biji mimba beserta kulit biji sampai kering agar tidak berjamur.
2. Giling biji dan kulit biji mimba sampai halus, kemudian saring dengan ayakan 0,05 mesh.
3. Timbang 25-50 g serbuk biji mimba + 1 l air + 1 ml alkohol aduk rata, kemudian rendam semalam(12 jam).
4. Keesokan harinya rendaman bahan disaring dengan kain furing.
5. Larutan hasil penyaringan kemudian ditambah dengan 1 g deterjen atau 0,5 ml perata (apsa), aduk rata dan larutan siap disemprotkan.
6. Penyemprotan sebaiknya dilakukan pada sore hari, dengan volume semprot yang memadai 400-600 liter air, tergantung umur tanaman yang akan disemprot.
Pembuatan Ekstrak Air Daun Mimba
Blender 50 g daun mimba segar dengan 1 l air + 1 ml alkohol aduk rata, kemudian rendam semalam (12 jam). Keesokan harinya rendaman bahan disaring dengan kain furing. Larutan hasil penyaringan kemudian ditambah dengan 1 g deterjen atau 0,5 ml perata (apsa), aduk rata dan larutan siap disemprotkan.
Sumber: Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan
Aneka Biopestisida
Biopestisida atau Pestisida Hayati atau juga disebut dengan Pestisida Organik merupakan pestisida yang terbuat dari bahan-bahan alami, baik hewani maupun nabati, yang tidak membahayakan bagi kehidupan suatu ekosistem. Dengan pestisida organik hama hanya terusir dari tanaman tanpa membunuhnya. Keuntungan lain yang didapat adalah mencegah terjadinya pengerasan pada lahan pertanian dan yang lebih pasti untuk menghindari ketergantungan terhadap penggunaan pestisida kimia agar dapat mengurangi biaya pembelian pestisida.
Meskipun sifatnya organik, namum dalam penggunaannya tetap harus dilakukan secara hati-hati dan dengan kesabaran serta ketelitian. Sedikit banyaknya pestisida organik yang disemprotkan ke tanaman harus disesuaikan dengan tingkat serangan hama yang ada. Waktu penyemprotan juga harus diperhatikan, sesuaikan dengan siklus perkembangan hama.
Yang terbaik dalam menggunakan pestisida organik adalah dengan melakukan pencegahan terhadap kehadiran hama bukan mengobati tanaman yang sudah terserang hama. Untuk pencegahan penyemprotan dapat dilakukan secara periodik sesuai dengan jenis tumbuhan yang ditanam atau jenis dan waktu serangan hama yang biasanya muncul di areal pertanaman. Misalnya dalam kurun waktu satu minggu sekali atau disesuaikan dengan ada tidaknya hama pada tanaman di sekelilingnya, karena hama selalu berpindah.
Salah satu biopestisida yang bisa digunakan dalam sistem pertanian organik adalah pestisida yang berasal dari ikan mujair. Cara membuatnya, 1 kg ikan mujair segar dari empang atau yang masih hidup dimasukkan ke plastik, dibiarkan selama 3 hari. Kemudian direbus dengan 2 liter air selama 2 jam dan disaring. Air hasil saringannya dapat digunakan secara langsung atau ditambahkan tembakau terlebih dahulu.
Pestisida organik lainnya dapat diperoleh dari biji mahoni, kunyit, jahe, sereh dan cabe. Pembuatannya dengan cara seluruh bahan dihaluskan, diberi air, diperas dan disaring. Untuk cabe saat penyemprotan harus hati-hati jangan sampai berbalik arah dan mengenai penyemprotnya.
Pestisida dari biji mahoni sangat baik sekali untuk mengatasi hama pada tanaman terong dan pare. Kunyit, jahe, dan sereh dapat mengatasi jamur pada tanaman dan buah. Sedangkan cabe bisa untuk mengatasi semua jenis hama kecuali hama di dalam tanah.
Selain dengan pestisida buatan sendiri untuk pengusiran hama, misalnya saja hama lalat buah, dapat dilakukan dengan pengalihan perhatian hama pada warna-warna yang disukainya. Caranya dengan memasang warna tertentu yang bisa menarik lalat buah di sekitar tanaman. Atau melakukan penanaman secara tumpang sari juga bisa menjadi alternatif mengurangi hama tanaman tertentu.
Membrangus Hama Wereng
Serangan hama dan penyakit padi téh cukup berpareasi sejak awal masa pertumbuhan sampai dengan menjelang panen. Salah satu yang paling ditakuti para petani adalah serangan hama wereng yang bisa menyebabkan kegagalan panen. Wereng téh merusak tanaman padi dengan cara menghisap sari makanan pada jaringan di batang padi, sehingga tanaman padinya lambat laun berubah menjadi coklat dan mengering seperti terbakar. Untuk itu perlu diwaspadai dengan melakukan pengendalian secara tepat sehingga tidak menimbulkan kerusakan berat bahkan sampai kehilangan hasil panen.
Wereng juga merupakan hama yang mampu beradaptasi dengan berbagai lingkungan, baik dimusim hujan maupun musim kemarau, dengan waktu yang cepat bahkan bisa menghasilkan populasi baru (biotipe) dalam waktu singkat. Seekor wereng betina misalnya, dia mampu menghasilkan antara 100-500 telur. Daur hidupnya dari telur hingga menjadi dewasa téh hanya membutuhkan waktu 29-36 hari. Memiliki kemampuan terbang dengan kecepatan 8-11 km per jam. Kelebihan lain yang sangat menakjubkan mah adalah mampu melemahkan kinerja pestisida yang selama ini dianggap ampuh dalam mengatasi serangannya. Dan ini terbukti, karena hingga saat ini, ternyata tidak mudah untuk memberantas hama yang satu ini.

Akibat terserang wereng, belum waktunya pun padi sudah dipanen.
Untuk mengatasi masalah di atas téh bisa dilakukan dengan berbagai cara. Misalnya saja dengan melakukan rotasi tanaman, menanam varietas yang tahan terhadap hama wereng atau menyemprotkan pestisida. Jika cara ketiga yang dipilih, sebaiknya mengunakan pestisida yang ramah lingkungan karena selain murah dan mudah juga tidak meninggalkan residu pada biji padinya. Ramuan pestisida yang pernah Akang buat dan ampuh untuk “menghabisi” wereng adalah sebagai berikut:
Ramuan 1
Kecubung 2 butir dan jenu 1 kg direbus dengan air sampai mendidih. Setelah dingin, Saring air rebusan tersebut. Gunakan setiap satu liter air rebusan dengan 16 liter air, kemudian semprotkan pada tanaman yang terserang hama wereng.
Ramuan 2
250 gr daun sirsak yang masih segar ditumbuk halus, kemudian aduk dengan ½ liter air. Setelah tercampur rata, saring cairan tersebut. Dalam pengaplikasiannya, campurkan hasil saringan tadi dengan 14 liter air lalu semprotkan. Selain untuk mengatasi serangan hama wereng ramuan yang kedua ini juga bisa untuk membasmi ulat grayak.
Ramuan 3
Gadung 4 kg, Cabe Merah 2 ons, ditambah Daun Sirih 2 kg. Seluruh bahan ditumbuk halus kemudian dimasukan kedalam 15 liter air dan aduk hinga rata. Setelah didiamkan selama 24 jam, baru disaring. Dosis yang dipakai untuk penyemprotan adalah 250 cc untuk 14 liter air. Ramuan ini bisa juga untuk mengatasi hama penggerek batang, walang sangit, thrip, aphia dan serangga kecil.
Untuk pengaplikasian sebaiknya diulang setiap lima hari sekali. Namun dalam menghadapi serangan yang berat penyemprotan harus diulang setiap tiga hari sekali.
Pestisida Organik dari Urine Sapi
Pemanfaatan air kencing (urine) sapi untuk dijadikan pestisida maupun pupuk yang ramah lingkungan téh semakin banyak diupayakan oleh para pelaku dan praktisi pertanian. Upaya éta téh dilatarbelakangi karena adanya kaprihatinan terhadap kondisi lahan yang semakin kritis dari unsur hara dan meningkatnya minat masyarakat akan produk-produk pertanian yang bebas residu.
Disamping itu, penggunaan pestisida dan pupuk kimia secara berkesinambungan téh telah mengakibatkan terjadinya pergeseran keseimbangan ekosistem. Karena penggunaan produk berbahan kimia tersebut tidak hanya mematikan hama dan penyakit tanaman, juga sudah membunuh organisme-organisme lain yang sebenarnya tidak mengganggu malahan justru bermanfaat dan diperlukan sebagai musuh alami hama tanaman.
Berangkat dari permasalahan di atas, himbauan dan ajakan akan penggunaan pestisida yang lebih ramah lingkungan semakin gencar disuarakan. Meski baru disambut oleh sabagain kalangan, namun upaya dalam menciptakan produk pertanian yang lebih sehat untuk dikonsumsi sudah semakin terlihat hasilnya.
Nih Akang kasih resep untuk membuat bio pestisida dengan bahan utama urine sapi. Biar hasil pertanian Ayi lebih sehat dan aman untuk dikonsumsi serta banyak dicari konsumen jika hasil pertaniannya untuk dijual.
Alat yang harus disiapkan téh Drum Plastik, Pengaduk dari kayu, Timbangan, Literan, Gayung, Ember, Jerigen, Saringan, Botol, Lumpang dan Alu. Untuk bahan utamanya Urine Sapi 60 liter, sedangkan bahan pendukungnya mah Air Tanah 40 liter, Jahe 1 kg, Kunyit 1 kg, Kencur 1 kg, Laos 2 kg, Temulawak 2 kg, Temuireng 2 kg, Jengkol 2 kg, Terasi ½ kg, Daun Lamtoro ½ kg, Air Gula Merah 2 liter dan EM TANI 1 liter.
Pada langkah awal jahe, kunyit, kencur, laos, temulawak, temuireng, jengkol, dan daun lamtoro téh ditumbuk sampai halus. Semua bahan yang telah dihaluskan dimasukkan ke dalam drum plastik. Selanjutnya masukan juga urine sapi, lalu aduk-aduk.
Berikutnya terasi dihaluskan, kemudian campurkan dengan air gula dan EM TANI. Setelah didiamkan selama 2 jam, masukan ke dalam drum. Tambahkan air dan aduk semua bahan sampai tercampur rata (homogen). Lalu drum ditutup rapat.
Pada minggu pertama lakukan pengadukan sebanyak 2 kali. Jangan lupa, setelah diaduk drum ditutup lagi. Setelah 3 minggu cairan bio pestisida téh disaring lalu dimasukkan ke dalam jerigen dan ditutup. Ampasnya bisa dijadikan untuk bahan kompos atau digunakan langsung sebagai pupuk. Simpanlah jerigen ditempat yang sejuk dan tidak kena sinar matahari. Apabila jerigen menggelembung, buka tutupnya untuk membuang akumulasi gas yang terbentuk oleh proses permentasi. Bio pestisida bisa digunakan apabila pembentukan gas telah terhenti. Jika tidak langsung digunakan, dapat dikemas sesuai kebutuhan, misalnya dengan menggunakan botol plastik.
Pemanpaatan urine sebagai bahan pestisida organik memberikan dua manpaat sekaligus, yaitu sebagai alternatip pengendalian hama tanaman secara alami yang aman bagi lingkungan dan menjadi solusi dalam penanganan limbah ternak sapi, khususnya limbah cair.
Selain itu, teknologi sederhana ini téh secara langsung akan meningkatkan kesejahteraan para petani dan peternak. Bagi petani dapat menekan biaya untuk pembelian pestisida dan bagi peternak tidak perlu mengeluarkan biaya dan pusing dalam membuang limbahnya.
Mengatasi Penyakit Kriting pada Cabe

Penyebabnya adalah CMV (Cucumber Mosaic Virus). Vektornya berupa Aphid dan Thrips. Aphid memiliki mulut berupa alat tusuk dan hisap. Pada saat ia berada di permukaan daun, Aphid akan menghisap zat-zat dari daun, sehingga otomatis dia akan bisa menularkan penyakit (virus) dan memperbanyak diri dalam tanaman tersebut. Sedangkan Thrips bekerja dengan menusuk klorofil (zat hijau daun) yang sangat diperlukan dalam proses pembuatan zat makanan bagi tumbuhan. Akibatnya, daun menjadi pucat dan tidak dapat memasok kebutuhan organ lain.
Nah, buat baraya Akang yang suka berkebun cabe, mulai sekarang tidak perlu lagi hawatir dan takut oleh penyakit ini. Akang punya ramuan mantap surantap yang sudah terbukti ces pleng di lapangan. Akan menjadi lebih baik hasilnya bila digunakan untuk pencegahan dengan penyemprotan secara rutin. Akang jamin tanaman cabe Ayi tidak akan tersentuh oleh penyakit ini, karena sifat ramuan ini, selain untuk mengobati juga sebagai replant terhadap binatang-binatang pembawa dan penyebar virusnya.
Ramuan yang pertama teh terdiri dari Brotowali 1 kg, Kapur 10 sdm dan Kunyit 1 kg. Ketiga bahan tersebut ditumbuk halus, kemudian tambahkan air 30-50 liter. Setelah didiamkan selama 24 jam, ramuan disaring dan siap untuk digunakan.
Yang kedua mah memakai Abu dapur 2 kg, Tembakau 250 gr dan Belerang 3 ons. Ketiga bahan direndam dalam air selama 3–5 hari. Saring air rendaman tersebut dan semprotkan pada tanaman yang terkena penyakit keriting.
Langganan:
Postingan (Atom)