POC Komplit Dari Limbah Domba

kambing domba
Bukan hanya daging yang bisa dimanfaatkan dari hewan yang satu ini, kotoran (fases) dan urinnya pun bisa disulap menjadi pupuk yang kualitasnya tidak kalah baik bila dibandingkan dengan pupuk-pupuk buatan pabrik. Apalagi diera seperti sekarang ini, dimana harga-harga pupuk pabrikan terus meroket dan pertanian organik mulai dilirik lagi oleh sebagian petani, tentunya diperlukan pasokan pupuk organik yang banyak dan berkesinambungan.

Apabila kotoran domba (biokultur) dibuat pupuk cair dengan cara difermentasi, unsur N, P, K dan C-organiknya meningkat secara drastis dibanding tanpa fermentasi. Yakni 1,22% dibanding 0,27% untuk N; 84 ppm dibanding 69 ppm untuk P; 962 ppm dibanding 422 ppm untuk K; dan 3.414 ppm dibanding 2.811 ppm untuk C-organik. Sedangkan untuk biourin, kandungan unsur N 0,89% dibanding 0,34%; K 1.770 ppm dibanding 759 ppm; dan C-organik 3.773 ppm dibanding 3.390 ppm. Tetapi unsur P turun menjadi 89 ppm dibanding 94 ppm.

Pada materi ini Akang coba membuat pupuk cair organik dari kotoran dan urin domba yang digabungkan menjadi satu. Agar hara satu sama lain bisa saling melengkapi ditambahkan dengan beberapa bagian tumbuh-tumbuhan. Bahan selengkapnya adalah sebagai berikut:
-   Urin 50 liter
-   Kotoran (fases) 5 kg
-   Gedebong pisang 5 kg
-   Sabut kelapa 2 kg
-   Daun gamal 3 kg
-   Berenuk 5 butir
-   Kulit nanas 2 kg
-   Gula pasir 2 kg
-   B-Satu atau B-Dua 1 botol

Cara Pembuatan
Tahap Persiapan:
1.     Cacah gedebong pisang dan kulit nanas sekecil mungkin
2.     Tumbuk daun gamal sampai hancur
3.     Ambil daging dari buah berenuk
4.     Sobek-sobek serabut kelapa

Tahap Fermentasi:
1.     Masukan semua bahan ke dalam drum plastik.
2.     Aduk-aduk sampai semuanya tercampur rata.
3.     Drum ditutup rapat dan simpan di tempat teduh.
4.     Setiap hari, samapai hari ke-7, larutan bahan harus diaduk-aduk.
5.     Setelah hari ke-7 pengadukan cukup dilakukan 3 hari sekali.
6.     Setelah 3 minggu, larutan siap untuk dijadikan pupuk.

Cara Aplikasi
1.     Disemprotkan
Dosis 1 gelas air mineral (kira-kira 250 cc) untuk 1 tangki yang 14 Liter.
2.     Disiramkan (dikocor)
Dosis 2 gelas air mineral (kira-kira 500 cc) dilarutkan dalam 1 ember air (kira-kira 10 liter). Siramkan larutan sebanyak 1-2 gelas air mineral ke setiap tanaman.

Pembuatan Nutrisi Untuk Tanaman

Seperti halnya manusia, tanaman juga memerlukan asupan nutrisi yang cukup dengan kombinasi yang tepat, baik makro maupun mikro, pada setiap fasenya supaya bisa tumbuh, berkembang, dan bereproduksi dengan sempurna. Ketika ia mengalami kekurangan nutrisi, tanaman menunjukkan gejala-gejala yang tidak sehat. Begitu juga sebaliknya, ketika asupan nutrisi berlebihan, menimbulkan efek yang kurang baik bagi tanaman.

Nutrisi untuk Fase Vegetatif
Untuk diaplikasikan saat usia tanaman berada dalam fase vegetatif atau masa pertumbuhan. Komposisi bahan yang digunakan terdiri dari 1 liter B-Dua, 5 buah berenuk, 5 kg daun gamal, ½ kg terasi, 1 kg gula pasir, 30 kg kotoran kambing, dan air secukupnya. Cara pembuatanya adalah:
1.     Kotoran kambing, daging buah berenuk, daun gamal yang sudah dihancurkan, gula, terasi dan B-Dua dimasukkan ke dalam drum plastik.
2.     Masukan air perlahan-lahan sambil diaduk-aduk. Pemberian air ini kira-kira sampai sejengkal dibawah permukaan drum.
3.     Tutup mulut drum agar air hujan dan sinar matahari tidak masuk ke dalamnya, dan simpan drum ditempat yang teduh.
4.     Setiap 3 hari sekali tutup dibuka lalu diaduk-aduk selama 15-30 menit. Gunakan pengaduk yang bersih dan terbuat dari bahan kayu/bambu/plastik.
5.     Setelah 8-10 hari cairan nutrisi disaring dan siap untuk digunakan.

Nutrisi untuk Fase Generatif
Nutrisi ini terdiri dari dua komposisi yang hasil akhirnya digabungkan. Penggunaannya saat tanaman memasuki fase generatif atau menjelang berbunga.
a)     Nutrisi-1
Komposisi bahan terdiri dari batang pisang 50 kg, gula pasir 5 kg, B-Satu 1 liter dan air 50 liter. Cara pembuatanya adalah:
1.     Iris-iris batang pisang, sekecil mungkin.
2.     Larutkan B-Satu, gula dan air dalam drum plastik. Sambil diaduk-aduk masukan irisan batang pisang sedikit demi sedikit.
3.     Tutup drum rapat-rapat. Pastikan sinar matahari dan air hujan tidak masuk, dan simpan drum ditempat yang teduh.
4.     Setelah dua minggu irisan batang pisang diangkat dan diremas-remas sampai airnya habis, kemudian cairannya disaring.
b)    Nutrisi-2
Komposisi bahan terdiri dari sabut kelapa 5 kg, B-Satu 1 liter dan air 100 liter. Sabut kelapa dan B-Satu dimasukan kedalam drum. Setelah itu, drum diisi air dan ditutup rapat. Supaya hasilnya sempurna, sabut kelapa harus terendam air. Setelah dua minggu air akan berubah warna menjadi coklat kehitaman. Selanjutnya sabut diangkat dan airnya disaring.

Nutrisi untuk fase generatif ini merupakan campuran dari ¼ bagian nutrisi-1 dan ¾ bagian nutrisi-2.

Dalam pengaplikasiannya kedua nutrisi ini, baik yang untuk fase vegetatif maupun generatif, bisa disiramkan atau disemprotkan dengan mengencerkannya (mencampur) dulu dengan air.

Efek Samping Fungisida Golongan Azol

Salam pertanian. Sejak tahun 2000-an penggunaan fungisida golongan azol, seperti score, anvile, topcore, folicur, opus, danvil, booster dan lain sebagainya mulai memasuki tanaman padi. Hal ini dipelopori oleh PT Sygenta yang mulai memperkenalkan Score 250 ec untuk mengendalikan berbagai penyakit pada tanaman padi (hawar pelepah helmintosporium, bercak daun cercospora dan bercak daun alternaria). Sejak itulah fungisida golongan azol yang tadinya diperuntukkan hanya untuk tanaman hortikultura akhirnya petani secara umum menggunakannya untuk mengendalikan penyakit pada tanaman padi.

Sebenarnya fenomena penggunaan fungisida azol pada tanaman padi oleh petani bukan didasari oleh keinginan mengendalikan penyakit di pertanaman padi mereka. Para petani tertarik menggunakan fungisida ini karena efek samping yang ditimbulkan oleh fungisida azol ini. Biasanya setelah aplikasi fungisida azol dua kali yaitu saat tanaman padi berumur kurang lebih 45 hst dan 65 hst tanaman padi akan terlihat menguning (daun, pelepah, daun bendera dan bulir padinya). Hal inilah yang menjadi daya tarik oleh petani sehingga mereka menyebut fungisida ini sebagai booster padi (booster=alat yang biasa di untuk menjernihkan gambar pada TV).

Semenjak animo petani terbentuk untuk menggunakan fungisida azol pada tanaman padi maka berbondong-bondong perusahaan pestisida lain mengikuti langkah-langkah PT Sygenta ini. Perusahaan yang mengikutinya antara lain PT Bayer Cropscience (Folicur), Nufarm (Booster), Indagro (Top core), BASF (Opus), Dalzon (danvil) dll. Mereka berjuang memperebutkan pasar fungisida azol di tanaman padi.

Dari semua perusahaan tersebut semua mengunggulkan produknya masing-masing. Mereka mengeklaim kalo produknyalah yang paling mampu meningkatkan produksi paling tinggi untuk tanaman padi mereka. Yach namannya jualan obat, he he......

Kali ini yang akan saya bahas adalah bukan sejarah perkembangan fungisida azol melainkan efek samping fungisida tersebut pada pertumbuhan tanaman. Fungsi utama penggunaan fungisida azol pada tanaman adalah untuk mengendalikan penyakit pada tanaman tersebut. Namun tidak dapat dipungkiri dari beberapa kali pengamatan lapangan hasil demplot beberapa produk fungisida azol tersebut ada semacam efek samping yang ditimbulkan pada pertumbuhannya. Yaitu bahwa fungisida golongan azol ini mempunyai kemampuan menghambat pertumbuhan vegetatif tanaman dan akan mempercepat proses pertumbuhan generatif. Kesimpulan ini bisa saya ambil dari beberapa fenomena lapangan:
-       Ketika Fungisida azol ini kita aplikasikan pada tanaman padi, padi akan mengeras batangnya, daun menguning termasuk daun bendera dan bulir juga cepat menguning.
-       Ketika kita aplikasikan pada tanaman semangka muda (umur kurang lebih 1 minggu) tanaman akan berhenti tumbuh, daun kaku bahkan daun pucuk mengering.
-       Jika kita aplikasikan pada tanaman kacang panjang atau mentimun saat awal pembungaan keluarnya bunga tanaman ini juga akan terpacu dan lebih serempak.

Karena fungisida ini mempunyai efek samping penghambatan fase pertumbuhan vegetatif tanaman dan merangsang pertumbuhan generatif tanaman maka sangat disarankan supaya tidak sembarangan mengaplikasi fungisida azol ini. Disarankan dalam mengaplikasikan fungisida azol ini sebaiknya menunggu saat tanaman memasuki pertumbuhan generatif (mulai berbunga).

Maksud dan tujuan penulisan artikel ini bukan lain hanyalah supaya petani lebih hati-hati dan lebih bijaksana dalam penggunaan fungisida golongan azol pada tanaman mereka. Dan akhir kata semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi kita semua.


Dikutip dari Blog GERBANG PERTANIAN, yang ditulis oleh MASPARY

Beras Hitam

Beras adalah bagian bulir padi (gabah) yang telah dipisahkan dari sekamnya. Sekam atau merang secara anatomi disebut palea (bagian yang ditutupi) dan lemma (bagian yang menutupi).

padi hitam

Pada salah satu tahap pemrosesan hasil panen padi, gabah ditumbuk dengan lesung atau digiling sehingga bagian luarnya (kulit gabah) terlepas dari isinya. Bagian isi inilah, yang bisa berwarna putih, kemerahan, ungu, atau bahkan hitam, yang disebut beras.

Beras biasa dimanfaatkan terutama untuk diolah menjadi nasi sebagai makanan pokok. Beras juga digunakan sebagai bahan pembuat berbagai macam penganan dan kue, terutama dari jenis ketan, termasuk pula untuk dijadikan tapai. Selain itu, beras merupakan salah satu komponen penting dalam pembuatan jamu beras kencur dan param. Sedangkan minuman yang paling populer dari olahan beras ini adalah arak dan air tajin.

Dalam bidang industri pangan, beras diolah menjadi tepung beras. Sosohan beras (lapisan aleuron), yang memiliki kandungan gizi tinggi, diolah menjadi tepung bekatul (rice bran). Bagian embrio juga diolah menjadi suplemen makanan dengan sebutan tepung mata beras. Sedangkan untuk kepentingan diet, beras dijadikan sebagai salah satu sumber pangan bebas gluten dalam bentuk berondong.

Secara biologi, beras adalah bagian biji padi yang terdiri dari:
-       Aleuron, lapis terluar yang sering kali ikut terbuang dalam proses pemisahan kulit,
-       Endosperma, tempat sebagian besar pati dan protein beras berada, dan
-       Embrio, yang merupakan calon tanaman baru (dalam beras tidak dapat tumbuh lagi, kecuali dengan bantuan teknik kultur jaringan). Dalam bahasa sehari-hari, embrio disebut sebagai mata beras atau mata holang.

Sebagaimana bulir serealia lain, bagian terbesar beras didominasi oleh pati, sekitar 80-85%. Beras juga mengandung protein, vitamin (terutama pada bagian aleuron), mineral, dan air. Pati beras tersusun dari dua polimer karbohidrat:
-       Amilosa, pati dengan struktur tidak bercabang, dan
-       Amilopektin, pati dengan struktur bercabang dan cenderung bersifat lengket.

Perbandingan komposisi kedua golongan pati tersebut sangat menentukan warna (transparan atau tidak) dan tekstur nasi (lengket, lunak, keras, atau pera). Ketan hampir sepenuhnya didominasi oleh amilopektin sehingga sangat lekat, sementara beras pera memiliki kandungan amilosa melebihi 20% yang membuat butiran nasinya terpencar-pencar (tidak berlekatan) dan keras.


Beras hitam yang disebut forbidden rice (beras terlarang), konon hanya dikonsumsi oleh para Kaisar Cina, dan dilarang untuk dibudidayakan dan diperdagangkan untuk rakyat biasa. Dari sinilah munculnya nama beras terlarang. Dengan runtuhnya kekaisaran, maka beras hitam bebas dibudidayakan, dan diperdagangkan untuk umum. Karena beras hitam ini berkembangnya di dataran Cina, maka disebut juga chinese black.

Beras hitam mengandung pigmen paling baik, berbeda dengan beras putih atau beras warna lainnya. Pada beras hitam, aleuron dan endospermia memproduksi antosianin dengan intensitas tinggi sehingga warna beras menjadi ungu pekat mendekati hitam. Antosianin adalah antioksidan polifenol dan termasuk senyawa antioksidan flavanoid.

Beras hitam memiliki nutrisi paling baik dibandingkan dengan beras warna lain, karena mengandung vitamin B1, B Komplek dan mineral. Zat besi misalnya, lebih tinggi dibanding beras putih. Hasil analisis Laboratorium Pangan dan Gizi Pusat Antar Universitas (PAU) UGM menunjukkan, kadar protein beras hitam 7,88%. Ini lebih tinggi dibanding beras putih yang hanya sebesar 6,8%. Namun, kandungan karbohidratnya hanya 74,81% sedikit lebih kecil dari beras putih yang 78,9%. Kandungan besinya 15,52 ppm, jauh lebih tinggi dibanding beras putih yang berkisar antara 2,9-4,4 ppm. Zat besi ini dibutuhkan tubuh dalam pembentukan sel darah merah. Selain itu, beras hitam mengandung relatif banyak serat makanan (dietary fiber), laju pencernaan pati lamban, indeks gula darah 55 sedangkan beras putih 87. Nilai energi dalam setiap 100 gram beras, untuk beras hitam di atas beras putih yaitu 352 kkal banding 349 kkal.

Menurut penelitian para ahli gizi dan kesehatan, beras hitam mempunyai khasiat:
-       Meningkatkan ketahanan tubuh terhadap penyakit,
-       Memperbaiki kerusakan sel hati (hepatitis dan chirrosis),
-       Membersihkan kolesterol dalam darah,
-       Memperlambat penuaan (antiaging),
-       Mencegah kanker/tumor dan penyakit degeneratif,
-       Mencegah anemia dan gangguan fungsi ginjal,
-       Mencegah penyakit saluran pencernaan,
-       Mencegah sembelit,
-       Menyehatkan jantung,
-       Berfungsi sebagai antioksidan,
-       Cocok untuk diet, dan
-       Mengandung Vit. B12 (kobalamin) yang berperan penting dalam perkembangan otak dan sistem syaraf, serta pembentukan darah


Sumber: Wikipedia dan dari berbagai sumber lainnya
Memerlukan benihnya untuk ditanam? Silahkan isi Form Pemesanannya.

Bioteknologi Berbasis Mikroba

Alasan kesehatan dan kelestarian alam menjadikan pertanian organik sebagai salah satu alternatif pertanian modern. Pertanian organik mengandalkan bahan-bahan alami dan menghindari input bahan sintetik, baik berupa pupuk, herbisida, maupun pestisida sintetik. Namun petani sering mengeluhkan hasil pertanian organik yang produktivitasnya cenderung rendah dan lebih rentan terhadap serangan hama dan penyakit. Masalah ini sebenarnya bisa diatasi dengan memanfaatkan bioteknologi berbasis mikroba yang diambil dari sumber-sumber kekayaan hayati.

Tanah sangat kaya akan keragaman mikroorganisme, seperti bakteri, aktinomicetes, fungi, protozoa, alga, dan virus. Tanah pertanian yang subur mengandung lebih dari 100 juta mikroba per gram tanah. Produktivitas dan daya dukung tanah tergantung pada aktivitas mikroba tersebut.

Sebagian besar mikroba tanah memiliki peranan yang menguntungkan bagi pertanian, yaitu berperan dalam menghancurkan limbah organik, recycling hara tanaman, fiksasi biologis nitrogen, pelarutan fosfat, merangsang pertumbuhan, biokontrol patogen, dan membantu penyerapan unsur hara. Bioteknologi berbasis mikroba dikembangkan dengan memanfaatkan peran-peran penting mikroba tersebut.

Teknologi Kompos Bioaktif
Salah satu masalah yang sering ditemui ketika menerapkan pertanian organik adalah kandungan bahan organik dan status hara tanah yang rendah. Petani organik mengatasi masalah tersebut dengan memberikan pupuk hijau atau pupuk kandang. Kedua jenis pupuk itu adalah limbah organik yang telah mengalami penghancuran sehingga menjadi tersedia bagi tanaman. Limbah organik seperti sisa-sisa tanaman dan kotoran binatang ternak tidak bisa langsung diberikan ke tanaman.

Limbah organik harus dihancurkan/dikomposkan terlebih dahulu oleh mikroba tanah menjadi unsur hara yang dapat diserap oleh tanaman. Proses pengomposan alami memakan waktu yang sangat lama, antara enam bulan hingga setahun, sampai bahan organik tersebut benar-benar tersedia bagi tanaman.

Kompos bioaktif adalah kompos yang diproduksi dengan bantuan mikroba lignoselulolitik unggul yang tetap bertahan di dalam kompos dan berperan sebagai agensia hayati pengendali penyakit tanaman. Proses pengomposan dapat dipercepat dengan menggunakan mikroba penghancur (dekomposer) yang berkemampuan tinggi. Penggunaan mikroba dapat mempersingkat proses dekomposisi dari beberapa bulan menjadi beberapa minggu saja. Di pasaran saat ini banyak tersedia produk-produk biodekomposer untuk mempercepat proses pengomposan. Namun, kita pun bisa membuatnya sendiri dengan bahan-bahan yang ada di sekitar kita.

Mikroba akan tetap hidup dan aktif di dalam kompos. Ketika kompos tersebut disebarkan ke tanah, mikroba akan berperan dalam mengendalikan organisme patogen penyebab penyakit tanaman.

Biofertilizer
Petani organik sangat menghindari pemakaian pupuk kimia. Untuk memenuhi kebutuhan hara tanaman, petani organik mengandalkan kompos sebagai sumber utama nutrisi tanaman. Sayangnya kandungan hara kompos rendah. Kompos matang kandungan haranya kurang lebih 1.69% N, 0.34% P2O5, dan 2.81% K. Dengan kata lain 100 kg kompos setara dengan 1.69 kg Urea, 0.34 kg SP36, dan 2.18 kg KCl. Misalnya, untuk memupuk padi yang kebutuhan haranya 200 kg Urea/ha, 75 kg SP 36/ha, dan 37.5 kg KCl/ha, membutuhkan sebanyak 22 ton kompos/ha. Jumlah kompos yang demikian besar ini memerlukan banyak tenaga kerja dan berimplikasi pada naiknya biaya produksi.

Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman, yaitu Nitrogen (N), fosfat (P), dan kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba. Hara N tersedia melimpah di udara. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. Namun, N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman.

N harus ditambat oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. Mikroba penambat N simbiotik antara lain Rhizobium yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacang-kacangan (leguminose). Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya Azospirillum dan Azotobacter. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja, sedangkan mikroba penambat N non simbiotik dapat digunakan untuk semua jenis tanaman.

Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Namun, hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman karena terikat pada mineral liat tanah.

Di sinilah peranan mikroba pelarut P. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P, antara lain Aspergillus, Penicillium, Pseudomonas, dan Bacillus Megatherium. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P, umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K.

Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer, yaitu ektomikoriza dan endomikoriza.

Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. Selain itu, tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus dan Gigaspora.

Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman antara lain Pseudomonas dan Azotobacter.

Mikroba-mikroba bermanfaat tersebut diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai biofertilizer. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, biofertilizer setidaknya dapat menyuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman.

Agen Biokontrol
Hama dan penyakit merupakan salah satu kendala serius dalam budidaya pertanian organik. Jenis-jenis tanaman yang terbiasa dilindungi oleh pestisida kimia umumnya sangat rentan terhadap serangan hama dan penyakit ketika dibudidayakan dengan sistem organik. Alam sebenarnya telah menyediakan mekanisme perlindungan alami.

Di alam terdapat mikroba yang dapat mengendalikan organisme patogen tersebut. Organisme patogen akan merugikan tanaman ketika terjadi ketidakseimbangan populasi antara organisme patogen dengan mikroba pengendalinya, di mana jumlah organisme patogen lebih banyak daripada jumlah mikroba pengendalinya. Apabila kita dapat menyeimbangkan populasi kedua jenis organisme ini, hama dan penyakit tanaman dapat dihindari.

Mikroba yang dapat mengendalikan hama tanaman antara lain Bacillus Thurigiensis, Bauveria Bassiana, Paecilomyces Fumosoroseus, dan Metharizium Anisopliae.

Mikroba ini mampu menyerang dan membunuh berbagai serangga hama. Mikroba yang dapat mengendalikan penyakit tanaman, misalnya, Trichoderma yang mampu mengendalikan penyakit tanaman yang disebabkan oleh Gonoderma, JAP (jamur akar putih), dan Phytoptora.

Produk-produk bioteknologi mikroba hampir seluruhnya menggunakan bahan-bahan alami. Produk ini dapat memenuhi kebutuhan petani organik. Kebutuhan bahan organik dan hara tanaman dapat dipenuhi dengan kompos bioaktif dan aktivator pengomposan.

Aplikasi biofertilizer pada pertanian organik dapat menyuplai kebutuhan hara tanaman yang selama ini dipenuhi dari pupuk-pupuk kimia. Serangan hama dan penyakit tanaman dapat dikendalikan dengan memanfaatkan biokotrol.

Petani yang menerapkan sistem pertanian organik umumnya hanya mengandalkan kompos dan cenderung membiarkan serangan hama dan penyakit tanaman.

Dengan tersedianya bioteknologi berbasis mikroba, petani organik tidak perlu khawatir dengan masalah ketersediaan bahan organik, unsur hara, dan serangan hama serta penyakit tanaman.


Sumber: Isroi, SSi, MSi, Peneliti Mikroba Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia

Manfaat Sirsak

sirsak
Hampir semua orang pernah tau yang namanya sirsak. Buahnya bisa dibuat berbagai penganan lezat, seperti dodol, keripik, atau dimakan langsung. Selain itu, meski rasanya agak masam, khasiatnya pun cukup bisa diandalkan untuk mengatasi beberapa penyakit. Sirsak yang punya nama Annona Muricata ini bisa tumbuh di sembarang tempat termasuk di pekarangan rumah. Jika ditanam di daerah yang mengandung banyak air, sirsak akan tumbuh lebih subur.

Daun sirsak berbentuk bulat telur dan agak tebal. Buahnya juga berbentuk bulat dengan permukaan kulit yang kasar dan seperti berduri. Buah yang sudah matang rasanya lebih terasa asam daripada manis.

Nama sirsak berasal dari bahasa Belanda, yaitu Zuurzak yang berarti kantung yang asam. Oleh sebab itu ada juga orang yang menyebut buah ini dengan nama nangka landa,  nagka walanda atau nangka sabrang.

Berbagai referensi menyebutkan, buah sirsak mengandung berbagai zat dan senyawa yang dibuthkan oleh tubuh. Misalnya kalori, protein, lemak, hidrat arang, kalsium, fosfor, besi, vitamin A, B, dan C. Sedangkan pada batangnya mengandung senyawa tamin, Ca-oksalat, dan fitosterol serta di daun dan bijinya terdapat annonain dan resin. Karena kandungan senyawa dan zatnya itu, maka sirsak bisa dimanfaatkan untuk pengobatan dari beberapa jenis penyakit dan dibuat pestisida nabati.

Untuk penyakit ambeien misalnya, yang dimanfaatkan adalah buah sirsak yang sudah matang. Caranya, buah tersebut diperas dan diambil airnya sebanyak satu gelas. Air tersebut kemudian diminum dua kali sehari.

Bayi yang mengalami mencret-mencret juga bisa diobati dengan sirsak. Buah sirsak yang sudah matang diperas dan diambil airnya, air perasan tersebut diminumkan ke bayi 2–3 sendok makan.

Bagi mereka yang mengalami sakit pinggang juga bisa memanfaatkan tanaman ini. Caranya, ambil 20 lembar daun sirsak dan rebus dengan 5 gelas air hingga mendidih sampai tersisa kurang lebih tiga gelas. Selanjutnya air rebusan diminum satu kali sahari sebanyak tiga perempat gelas.

Selain penyaik-penyakit di atas, sirsak juga memiliki khasiat untuk mengatasi gangguan penyakit lainnya, seperti asam urat, bisul, dan ayang-ayangan (sering buang air kecil tapi sedikit dan terasa sakit).

Sedangkan pemanfaatan sebagai pestisida bisa dibuat untuk penanggulangan hama wereng dan ulat grayak. Caranya, 250 gr daun sirsak yang masih segar ditumbuk halus, kemudian aduk dengan ½ liter air. Setelah tercampur rata, saring cairan tersebut. Dalam pengaplikasiannya, campurkan hasil saringan tadi dengan 14 liter air lalu semprotkan.

Untuk mengendalikan hama thrips pada tanaman cabe caranya, 50-100 lembar daun sirsak ditumbuk halus, kemudian tambahkan 5 liter air dan ditergen sebanyak 15 gram. Setelah diendapkan semalam, larutan disaring. Bila ingin diaplikasikan, setiap 1 liter larutan dicampur dengan 10-15 liter air, baru disemprotkan.

Bokashi Kohe

Bokashi merupakan suatu kata dalam bahasa Jepang yang berarti bahan organik yang telah difermentasikan. Di Indonesia, bokashi didefinisikan bermacam-macam. Namun demikian maksudnya sama, yaitu sebuah metode pengomposan yang menggunakan bantuan mikroorganisme, baik yang aerobik maupun anaerobik. Dimana mikroorganisme yang digunakan adalah yang bermanfaat untuk meningkatkan keaneka-ragaman mikroba dalam tanah maupun tanaman, serta berfungsi dalam meningkatkan kesehatan tanah, pertumbuhan dan produksi tanaman. Mengapa dinamakan bokashi kohe? Karena bahan dasar organiknya berasal dari kotoran hewan.

Pemikiran tentang penggunaan mikroorganisme dalam pembuatan kompos ini pertama kali dikembangkan oleh Prof. Teruo Higa dari Jepang. Teruo menemukan mikroorganisme yang dapat hidup secara bersama dalam kultur campuran dan secara fisioligis dapat bergabung satu dengan yang lain. Menurutnya, bila kultur ini dimasukan dalam lingkungan alami, maka pengaruh baik masing-masing akan lebih berlipat ganda secara sinergis. Menurutnya juga, akan lebih baik lagi bila menggunakan kultur mikroorganisme lokal (MOL), karena MOL tidak mengandung mikroorganisme yang telah dimodifikasi secara genetik, tetapi kultur ini merupakan campuran berbagai spesies mikroba yang terdapat dalam lingkungan alami di dunia.

Hasil dari pengomposan biasa baru bisa dipergunakan, umumnya, setelah berlangsung selama 1-3 bulan (tergantung bahan yang dipakai). Tetapi dengan melakukan penambahan mikroorganisme pada saat prosesnya, kompos bokhasi dapat digunakan 1-14 hari setelah fermentasi. Secara fisik bokashi terlihat hampir sama dengan bahan aslinya. Namun, meski demikian bokashi tetap dapat digunakan. Pembusukan akan terjadi segera setelah diaplikasikan ke dalam tanah. Pengomposan bokashi hanya berperan sebagai pemercepat proses pembusukan sebelum material organik diberikan ke alam.

bokashi

Manfaat Bokashi
-       Memperbaiki sifat fisika, kimia, dan biologi tanah.
-       Mengurangi penggunaan pupuk dan pestisida kimia.
-       Mempercepat penyediaan nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman sehingga bisa meningkatkan dan menjaga kesetabilan produksi, serta menghasilkan kualitas dan kuantitas hasil pertanian yang berwawasan lingkungan.
-       Meningkatkan kandungan material organik pada tanah yang keras dan mengurangi kelengketan tanah terhadap alat-alat pertanian.

Pembuatan Bokashi Kohe
Bahan-bahan:
-       16 bagian kohe
-       3 bagian sekam
-       1 bagian dedak/bekatul
-       1 sdm MikroCid
-       1 sdm gula pasir
-       1 liter air

Cara-caranya:
-       Larutkan MikroCid dan gula kedalam air.
-       Kohe, sekam, dan dedak diaduk sampai tercampur rata.
-       Siramkan larutan yang telah dibuat secara perlahan-lahan kedalam bahan secara merata, kemudian bahan diaduk-aduk lagi.
-       Jika bahan masih kering, lakukan langkan sebelumnya sampai bahan terlihat basah. Meskipun basah, bila dikepal dengan tangan tidak ada air yang menetes dan bila kepalan dilepas bahan mudah pecah (megar).
-       Gundukan bahan diatas ubin atau tanah yang kering dengan ketinggian minimal 20 cm dan maksimal 1 meter, lalu tutup dengan terpal yang tidak tembus cahaya matahari dan air hujan.
-       Setiap 5 jam sekali suhu diperiksa. Caranya, masukan tangan atau kaki ke dalam bahan. Apabila sebelum 5 detik terasa panas, suhu harus diturunkan dengan menipiskan gundukan sambil diaduk-ngaduk dan diangin-anginkan. Setelah suhu dingin bahan digundukan dan ditutup kembali.
-       Setelah 4-7 hari difermentasi, bokashi siap digunakan sebagai pupuk organik.

Photo ilustrasi pembuatan bokashi kohe bisa lihat disini.

Penggunaan:
-       Untuk tanaman sayur-sayuran, cangkul lahan terlebih dahulu kemudian sebarkan 3-4 gengam bokashi untuk setiap meter persegi (bila lahan kurang subur bisa diberikan lebih banyak). Cangkul kembali lahan supaya bokashi tercampur rata dengan tanah. Setelah dibiarkan selama seminggu, lahan siap ditanami.
-       Untuk tanaman padi, pemberian bokashi dilakukan sebelum pembajakan sebanyak 2 ton/ha, setelah tanaman berumur 14 hari dan 1 bulan masing-masing ½ ton/ha.
-       Untuk tanaman buah-buahan, bokashi disebar di permukaan tanah/pekarangan di sekitar tanaman kemudian diaduk-aduk supaya tercampur rata dengan tanah atau dibenamkan mengelilingi pohon sejauh tajuk tanaman (daun terluar).

Agar diperoleh hasil yang maksimal, setelah penyebaran bokashi sebaiknya diberikan MikroCid atau Fermak dengan dosis 10 cc/liter air. Untuk lahan sayur-sayuran dan padi disemprotkan sedangkan untuk buah-buahan disiramkan.